[{{mminutes}}:{{sseconds}}] X
Пользователь приглашает вас присоединиться к открытой игре игре с друзьями .
Обычный индонезийский
(4)       Используют 10 человек

Комментарии

Мультилингва 15 августа 2018
Словарь включён в программу мероприятия [18.07.18 - 07.09.18] Мультилингва МЕГА 2.
Написать тут
Описание:
Тексты длиной 270-300 символов
Автор:
Phemmer
Создан:
15 декабря 2017 в 00:47 (текущая версия от 22 августа 2018 в 14:03)
Публичный:
Да
Тип словаря:
Тексты
Цельные тексты, разделяемые пустой строкой (единственный текст на словарь также допускается).
Содержание:
1 Yang kedua, disihir sehingga berubah menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam, dan terkadang terlihat di permukaan laut menyemburkan sebuah pancuran air yang besar di udara. Kedua anak ini masing-masing masih bisa berubah bentuk menjadi manusia selama dua jam setiap hari.
2 Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari, sedang menanti datangnya pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri, mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri, tidaklah mudah.
3 Si Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana matahari itu dalam waktu yang cukup lama tanpa bisa menemukannya. Suatu ketika, dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar, dan menjadi tersesat.
4 Seketika itu juga, seekor burung api muncul dan hendak terbang, tapi kakak si Putra Ketiga yang berubah bentuk menjadi elang, menukik turun, mengejar burung api tersebut sampai ke laut, dan memukul dengan paruhnya sampai sang Burung Api melepaskan telur yang dipegangnya.
5 Ketika api itu padam, si Putra Kegita mencari telur itu dan menjadi sangat bahagia saat menemukannya. Kulit telur tersebut menjadi retak dan pecah akibat suhu panas yang tiba-tiba berubah menjadi dingin saat tersiram air, sehingga bola kristal di dalamnya dapat diambil oleh si Putra Ketiga.
6 Seorang pemburu yang tidak terlalu berani, sedang mencari jejak seekor singa. Dia lalu bertemu dengan seorang penebang kayu di dalam hutan dan dia pun bertanya kepada penebang itu jika saja ia melihat adanya tanda-tanda jejak sang Singa atau tahu di mana singa tersebut bersarang.
7 Sang Keledai menjadi terhuyung-huyung selama berjalan setengah kilometer lagi dan tiba-tiba jatuh ke tanah dan mati. Saat itulah, si Pemilik datang dan hanya bisa berpasrah dengan apa yang telah terjadi. Ia lalu melepaskan beban dari keledai yang telah mati, lalu ditempatkan di atas punggung kuda.
8 Tetapi mengapa Ayah selalu lari menghindar saat mendengar gonggongan anjing?" "Anakku," kata sang Rusa, "Sifat amarahku tidak menentu, dan bisa saja saat saya berdekatan dengan anjing yang ribut menggonggong itu, saya akan kehilangan kesabaran dan mungkin saja saya akan melukai anjing tersebut.
9 Seorang murid sekolah yang sangat nakal dan sering membolos dari sekolah, suatu saat berencana untuk mengambil dan memetik buah-buahan dari suatu kebun tanpa sepengetahuan pemiliknya. Pemilik kebun ini, di setiap musim panen, selalu membanggakan hasil panennya yang sangat baik.
10 Pada musim semi, dia bisa menunjukkan bunga-bunga yang mekar pada pohonnya dan di musim gugur dia bisa memetik apelnya yang telah ranum. Suatu hari, pemilik kebun ini melihat murid sekolah ini dengan sembarangan memanjat pohon buah dan menjatuhkan buah-buahan yang telah masak maupun belum masak.
11 Kepala sekolah ini datang segera ke kebun tersebut dan membawa murid-murid yang lain di belakangnya. Kepala sekolah ini ingin memarahi dan menghukum murid nakal tersebut dan memberikan contoh kepada murid lainnya bahwa setiap perbuatan yang nakal, akan mendapatkan hukuman.
12 Matahari bersinar terik dan memaksa pengembara untuk berteduh Dengan hembusan angin yang kencang, ujung jubah yang dipakai pengembara, tertiup ke belakang. Tetapi ia segera membungkus erat jubah itu ke tubuhnya, dan semakin kuat angin bertiup, semakin erat ia membungkus tubuhnya.
13 Angin utara berusaha merobek jubah pengembara itu dengan tiupan anginnya, namun semua usahanya sia-sia. Tibalah giliran matahari. Matahari mulai memancarkan sinarnya. Pada awalnya sinar yang dikeluarkan cukup lembut, dan dalam sekejap, kehangatan menggantikan rasa dingin dari Angin Utara.
14 Sesaat kemudian, dia mendengar suara seekor singa di dekatnya yang mengaum dengan keras. Androcles yang kelelahan, bangkit dan bergegas untuk pergi karena rasa takutnya kepada singa, tetapi saat dia berjalan menembus semak-semak dia tersandung pada akar pohon dan terjatuh.
15 Apa yang ditakutkan oleh Androcles menjadi sirna, sang Singa bukan hanya tidak memangsa dirinya, tetapi dalam waktu tidak berapa lama, singa tersebut pergi dan kembali sambil membawa rusa muda yang berhasil ditangkapnya ke hadapan Androcles, sehingga Androcles bisa mendapatkan makanan di saat itu.
16 Pada hari yang telah ditentukan, dia pun ditempatkan di arena sendirian dan hanya berbekal tombak untuk melindungi dirinya dari dari serangan singa yang buas. Kaisar yang berada di barisan kursi untuk kalangan istana, memberikan sinyal untuk melepaskan singa dan memulai pertarungan.
17 Saat sang Singa keluar dari kandangnya dan mendekati Androcles, apa yang terjadi? Bukannya sang Singa melompat ke atasnya untuk menerkam, tetapi sang Singa malah menunjukkan sikap hormat kepadanya, menggosok-gosokkan kepalanya pada Androcles yang dengan segera membelai kepala sang Singa.
18 Anak laki-laki tersebut bermain-main dengan cara melemparkan batu-batu ke atas permukaan kolam. Batu-batu yang beterbangan dengan cepat di atas permukaan kolam membuat anak-anak tersebut tertawa terbahak-bahak; sedangkan katak-katak yang menghuni kolam tersebut gemetar ketakutan.
19 Seorang anak gembala selalu menggembalakan domba milik tuannya dekat suatu hutan yang gelap dan tidak jauh dari kampungnya. Karena mulai merasa bosan tinggal di daerah peternakan, dia selalu menghibur dirinya sendiri dengan cara bermain-main dengan anjingnya dan memainkan serulingnya.
20 Anjing tersebut menggeram-geram dan mengancam menggigit seolah-olah kandang tersebut penuh dengan daging dan tulang yang semuanya adalah untuk dirinya sendiri. Kerbau-kerbau tersebut menatap sang Anjing dengan tatapan jengkel. "Betapa egoisnya dia!" kata salah satu kerbau.
21 Burung elang tersebut akhirnya turun dan menyambar dan menerkam ayam jantan yang jadi pemenang tadi untuk dibawa ke sarangnya. Ayam yang satunya yang tadinya dikalahkan, melihat seluruh kejadian itu dan keluar dari tempat persembunyiannya dan mengambil tempat sebagai pemenang di perkelahian tadi.
22 Rubah yang suka mengolok-olok teman-teman dan tetangganya, langsung mengoloknya dengan berpura-pura melihat kesana-kemari, seolah-olah takut pada musuh yang tidak terlihat. Tetapi sang Babi Hutan tidak memperdulikan tingkah sang Rubah dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
23 Kantong yang berisikan batu dan kerikil Suatu hari orang tua tersebut bertemu dengan temannya dan menceritakan segala kesedihannya. Temannya merasa sangat simpati dan berjanji untuk membantunya. Tidak berapa lama, temannya tersebut mendapatkan satu cara untuk membantu orang tua tersebut.
24 Tepat pada saat itu, sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.
25 Seharusnya disanalah tempat yang tepat. Buah yang besar, sepantasnya berasal dari pohon yang besar! sayang sekali!" katanya kepada diri sendiri, "Sebagai contoh, biji pohon oak ini, yang sekecil jari tangan saya, seharusnya di gantungkan pada batang labu yang kurus ini.
26 Seekor burung Elang, dengan kekuatan sayapnya menyambar seekor anak domba dengan kukunya dan membawanya pergi jauh ke angkasa, seekor burung gagak melihat kejadian itu, dan terbayang dibenaknya sebuah gagasan bahwa dia mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sama dengan burung elang tersebut.
27 Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit.
28 Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan. Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya.
29 Seiring dengan berjalannya waktu, gandum ini tumbuh makin tinggi, begitu pula dengan anak-anak burung Lark yang tumbuh makin kuat. Suatu hari, ketika biji-biji gandum yang terlihat kuning keemasan terayun-ayun saat tertiup angin, sang Petani dan anaknya datang ke ladang tersebut.
30 Nelayan dan istrinya ini tidak memiliki anak dan mereka sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Saat nelayan tersebut melihat bayi kecil yang terdampar, ia menjadi sangat bahagia dan membawanya pulang untuk diperlihatkan kepada istrinya, yang menerima bayi tersebut dengan tangan terbuka.
31 Di sanalah bayi tersebut menetap hingga berusia dewasa, dan bayi tersebut tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Pada suatu hari, sang Baron pergi berburu dengan beberapa orang sahabatnya di sepanjang tepi Sungai Ouse, dan berhenti di sebuah gubuk nelayan untuk minum.
32 Saat si Gadis tiba di dekat tebing, sang Baron memegang tangannya dan akan mendorong gadis tersebut ke pinggiran tebing. Tetapi gadis tersebut memohon agar sang Baron menaruh belas kasihan kepadanya, dan membiarkannya untuk tetap hidup. "Aku tidak melakukan kesalahan apapun juga," ujarnya.
33 Si Gadis bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, berdasarkan janjinya, dia seharusnya pergi dan menghindar. Tetapi akhirnya dia berkesimpulan bahwa mereka tidak akan melihatnya di dapur kastil sehingga perasaannya menjadi sedikit lega, dan melanjutkan pekerjaannya sambil menghela napas panjang.
34 Untuk itu dia mengirimkan lamaran kepada putri raja dari kerajaan sebelah, yang langsung disetujui oleh raja dari kerajaan itu. Saat kekasih pertamanya mendengar berita tersebut, dia menjadi sangat sedih. Setiap hari dia merindukan kekasihnya hingga sakit dan hampir meninggal.
35 Maka dia pun berkata, "Ya, aku dengan senang hati menerima mereka semua." Setelah itu, resmilah mereka semua menjadi dua belas pemburu kerajaan. Sekarang, sang Raja memiliki singa yang luar biasa, karena singa tersebut bisa mengendus segala sesuatu yang tersembunyi atau bersifat rahasia.
36 Dia pun terjatuh pingsan karenanya. Sang Raja yang merasa khawatir bahwa sesuatu telah terjadi pada pemburu kesayangannya, berlari untuk membantu, dan mulai menarik sarung tangan sang Pemburu agar terbuka. Saat itulah dia melihat cincin yang pernah diberikan kepada kekasihnya yang pertama.
37 Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan. Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan. Rasa sombong dan harga diri mereka tidak membiarkan mereka untuk mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya.
38 Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal.
39 Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.
40 Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.
41 Suatu hari, dua orang pengembara yang berjalan di tepi pantai, melihat tiram yang terdampar di pantai akibat laut pasang. Mereka secepatnya menunjuk tiram tersebut dan berkata bahwa tiram itu adalah miliknya. Mereka saling dorong-mendorong dan berebutan untuk mengambil tiram tersebut.
42 Sang Gembala yang melihat kambing tersebut, berteriak memanggilnya, tetapi sia-sia karena sang Kambing tidak memperhatikan dan mendengarkan teriakannya. Sang Gembala lalu mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke kambing tersebut hingga salah satu tanduknya patah. Sang Gembala menjadi ketakutan.
43 Ternyata dalam gua itu juga didapati segerombolan kambing hutan ikut berteduh. Sang Gembala sangat ingin membuat agar gerombolan kambing hutan hutan itu mau menjadi bagian dari ternaknya. Untuk itu, sang gembala memberi mereka makanan yang baik hingga sekenyang-kenyangnya.
44 Suatu masa, seekor harimau terperangkap dalam satu perangkap kandang. Harimau tersebut mencoba dengan sia-sia untuk lolos dari tiang-tiang besi kandang dan berguling-guling dalam keadaan marah dan sedih ketika gagal lepas dari perangkap. Kebetulan saat itu lewatlah seorang petapa.
45 Mereka sangatlah miskin dan ibunya yang sudah tua itu menghidupi mereka dengan berkerja sebagai penenun, tetapi Jack sendiri adalah anak yang sangat malas dan tidak pernah mau melakukan apapun selain berjemur di matahari pada hari yang panas, dan duduk di sudut rumah saat musim dingin.
46 Sehingga dia dipanggil Jack si Pemalas. Ibunya sendiri tidak pernah dapat membuat Jack melakukan sesuatu untuknya, dan akhirnya suatu hari da berkata kepada Jack, bahwa apabila dia tidak mulai bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, ibunya itu tidak akan memperdulikan dia lagi.
47 Gadis itu paling cantik bila dibandingkan gadis-gadis cantik lainnya di sekitar kastil penyihir tua tersebut. Sebelumnya, dia dan seorang pemuda tampan bernama Joringel telah berjanji untuk menikah. Mereka masih dalam masa pertunangan dan mereka senantiasa berjalan bersama-sama.
48 Jorinda terharu dan menangis mendengar nyanyian tersebut, dan duduk di bawah sinar matahari sambil bersedih. Joringel ikut menjadi sedih. Kemudian saat mereka tersadar dan memandang sekeliling mereka, mereka menjadi bingung, karena mereka tidak tahu ke mana arah untuk pulang.
49 Burung hantu itu sekarang terbang menuju ke semak-semak, dan setelah itu keluar dari semak-semak dalam bentuk seorang wanita tua yang bongkok, berkulit kuning dan bertubuh kurus, dengan mata berwarna merah dan besar serta berhidung bengkok, yang ujungnya hampir mencapai dagunya.
50 Joringel hanya terpaku dan diam di tempatnya, tidak bisa berbicara atau bergerak dari tempat tersebut. Akan tetapi, akhirnya wanita tua itu datang kembali, dan berkata, "Saat bulan menyinari sangkar burung, biarkanlah dia bebas." Tidak lama kemudian, Joringel pun terbebas.
51 Dia murka, marah dan marah serta menyemburkan ludah beracun terhadap Joringel. Tetapi racun tersebut tidak bisa mengenainya dan terhenti sekitar dua langkah dari tubuhnya. Joringel tidak mempedulikan penyihir itu, dan memeriksa sangkar yang berisikan burung-burung untuk membebaskan Jorinda.
52 Sesaat kemudian, dia melihat wanita tua itu diam-diam mengambil sangkar yang berisikan seekor burung bulbul di dalamnya, dan pergi menuju sebuah pintu. Dengan cepat Joringel melompat ke arahnya, menyentuhkan bunga yang dibawanya ke sangkar yang dibawa oleh si Penyihir itu.
53 Sekarang, dia tidak bisa lagi menyihir. Jorinda yang telah berwujud seorang gadis cantik lagi, berdiri tidak jauh dari Joringel. Setelah itu, Joringel pun menyentuhkan bunganya ke semua burung yang ada dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian, semua burung telah berwujud menjadi manusia.
54 Akhirnya sang adik berkata: "Tak apa, saya tidak akan meninggalkan kamu sendirian," kemudian dia mengambil sabuk emas miliknya dan mengikatnya di sekeliling leher rusa itu. Lalu dia mengambil selendangnya dan menjadikannya tali yang diikatkan ke sabuk yang melingkar di leher sang rusa.
55 Saat Raja berburu kembali, dia dan pemburunya melihat sang Rusa dengan sabuk emas di lehernya, dan mulai mengejarnya kembali, hampir seharian penuh mereka mengejar rusa tersebut dan akhirnya sang Rusa terkepung dan sedikit terluka di kaki sehingga sang Rusa tidak dapat berlari kencang lagi.
56 Kemudian ibu tiri itu dengan cepat mendandani anak gadisnya dengan sihirnya agar sama seperti sang Ratu. Tetapi walaupun ibu tiri itu mempunyai sihir, dia tidak dapat menyamarkan mata putrinya yang hanya satu itu dan mencari alasan yang baik agar raja tidak menyadari perbedaannya.
57 Raja tidak pernah menyadari bahwa yang selalu di temui itu bukanlah sang Ratu yang asli. Sang Ratu dan Bayinya Setelah kejadian itu, di ruangan di mana bayi itu ditidurkan, perawat yang menjaga bayi sering melihat pintu kamar tersebut dibuka oleh seorang wanita yang mirip sekali dengan Ratu.
58 Kejadian tersebut berulang terus menerus dan setiap kali perawat yang menjaga bayi tersebut bertanya ke penjaga pintu, mereka selalu mengatakan tidak melihat satu orang pun masuk ke dalam ruangan itu. Karena ketakutan, perawat tersebut tidak pernah menyampaikan apa yang dilihatnya kepada siapapun.
59 Kemudian mereka membelikan sebuah mangkuk kayu yang murah untuk sang Kakek Tua agar mangkuk kayu tersebut tidak pecah saat jatuh. Pada saat mereka duduk di meja untuk makan, cucunya yang masih kecil dan berusia empat tahun mulai mengumpulkan beberapa potongan-potongan kayu di tanah.
60 Putri tertua memiliki wajah dan perangai yang sangat mirip dengan ibunya sehingga orang sering berkata bahwa siapapun yang melihat putri tertua tersebut, sama dengan melihat ibunya. Mereka berdua mempunyai sifat jelek yang sama, sangat sombong dan tidak pernah menghargai orang lain.
61 Karena kecenderungan orang untuk menyukai hal yang sama dengan diri mereka, ibunya menjadi sangat sayang kepada putri yang tertua, sedangkan putri yang termuda diperlakukan dengan buruk, putri termuda sering disuruhnya bekerja tanpa henti dan tidak boleh bersama mereka makan di meja makan.
62 Putri yang termuda sering dipaksa dua kali sehari untuk mengambil air dari sumur yang letaknya sangat jauh dari rumah mereka. Suatu hari ketika putri yang termuda berada di mata air ini, datanglah seorang wanita tua yang kelihatan sangat miskin, yang memintanya untuk mengambilkan dirinya air minum.
63 Seorang anak Raja, yang baru kembali dari berburu di hutan, secara kebetulan bertemu dengan putri termuda yang sedang menangis. Anak Raja tersebut kagum akan kecantikan putri termuda kemudian bertanya mengapa putri tersebut sendirian di dalam hutan dan menangis terisak-isak.
64 Putri termuda kemudian menceritakan semua kisahnya, dan anak Raja tersebut menjadi bertambah kagum akan kebaikan hati dan kesopanan tutur kata putri termuda. Anak Raja menjadi jatuh hati pada putri termuda dan beranggapan bahwa putri termuda sangat pantas menjadi istrinya.
65 Saat katak tersebut melihat tikus, dia berenang menuju ke tepi kolam dan berkata: "Maukah kamu mengunjungi saya? Saya berjanji kamu akan senang." Sang Tikus tidak berpikir panjang lagi, karena dia sangat ingin berpetualang ke seluruh dunia dan melihat segala yang ada di dunia.
66 Sang katak memiliki akal, agar sang Tikus bisa yakin bahwa katak akan dapat selalu membantu sang Tikus saat berenang di kolam, dia mengikat kaki tikus tersebut ke kakinya sendiri dengan seutas tali. Lalu dia melompat ke dalam kolam, sambil menarik teman jalannya yang bodoh bersamanya.
67 Setiap hari anjing ini akan berlari menyambut tuannya, bermain-main dengan gembira, melompat naik ke pangkuan tuannya sambil menjilati tangan dan wajah tuannya. Sang Keledai bertindak seperti anjing kesayangan tuannya Semua ini disaksikan oleh sang keledai dengan rasa cemburu.
68 Lalu ia pun meletakkan kedua kaki depannya di pangkuan tuannya dan menjilatkan lidahnya ke wajah tuannya, persis seperti apa yang biasanya di lakukan oleh sang Anjing. Tetapi karena berat, keledai dan tuannya jatuh bergulingan di atas piring-piring yang pecah dan jatuh dari meja.
69 Tuannya yang terkejut dengan kelakukan aneh sang Keledai, berteriak minta tolong, dan tidak lama kemudian beberapa pelayan datang. Saat melihat betapa berbahayanya tindakan sang Keledai terhadap tuannya, mereka mengambil kayu dan mengusir keledai itu keluar kembali ke kandangnya.
70 Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut.
71 Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.
72 Seekor keledai menemukan sebuah kulit singa yang telah ditinggalkan oleh sang pemburu di dalam hutan. Dia kemudian memakai kulit singa itu dan menghibur dirinya dengan cara bersembuyi di semak-semak dan tiba-tiba meloncat keluar untuk menakut-nakuti binatang yang lewat di tempat itu.
73 Keledai tersebut begitu senang melihat semua binatang lari menjauh darinya, seolah-olah dirinya adalah raja hutan, sehingga karena terlalu bangga dan senangnya, dia mulai mengaum dengan keras, tetapi bukanlah auman singa yang keluar dari mulutnya, melainkan cuma ringkikan keledai yang parau.
74 Seekor rubah yang tadinya ikut lari bersama dengan binatang lainnya, menjadi terhenti ketika mendengar suara itu. Perlahan-lahan dia mendekati keledai itu dan menyadari bahwa yang menakut-nakuti seluruh binatang yang lewat di tempat itu hanyalah seekor keledai yang memakai kulit singa.
75 Seekor singa terluka karena tersedak oleh sebuah tanduk kambing hutan yang tidak sengaja tertelan sewaktu makan. Dia menjadi sangat marah dan menganggap bahwa semua hewan yang menjadi mangsanya seharusnya tidak memiliki tanduk yang berbahaya seperti itu, yang dapat membuatnya terluka saat makan.
76 Karena itu dia lalu memerintahkan semua hewan yang memiliki tanduk, segera meninggalkan hutannya dalam waktu satu hari. Perintahnya membuat semua hewan dalam hutan menjadi ketakutan. Semua hewan yang memiliki tanduk, secepatnya berkemas-kemas dan meninggalkan hutan tersebut.
77 Saat mereka sedang ribut berdiskusi, tiba-tiba bunyi suatu suara yang aneh sehingga kelinci-kelinci tersebut lari ketakutan menuju ke sarangnya. Saat itu mereka berlari melewati sebuah kolam, di mana pada kolam tersebut tinggallah keluarga kodok yang sedang duduk di alang-alang pinggiran sungai.
78 Dan saat berjalan sedikit lebih jauh lagi, ia menemui seorang anak yang meminta jubah luarnya, dan ia pun menyerahkan jubah luar itu juga. Akhirnya ia masuk ke hutan dan saat itu hari sudah menjadi gelap, dan datang lagi seorang anak yang lain dan meminta gaun yang dipakainya.
79 Walaupun tugasnya sangat ringan dibandingkan dengan tugas yang dikerjakan oleh sepasang kerbau itu, sang Roda berciut-ciut dan mengeluarkan keluhan di setiap belokan. Kerbau yang malang dan yang telah bekerja keras menarik kereta melalui lumpur, akhirnya tidak tahan mendengar keluhan dari sang Roda.
80 Suatu kali, ada seekor kucing dan seekor rubah yang melakukan perjalanan bersama-sama. Sambil berkelana, mereka sama-sama berburu tikus ataupun ayam yang gemuk di sana-sini, dan setiap makan, mereka sering mengobrol sambil berdebat. Dan terkadang perdebatan mereka membuat salah satunya marah.
81 Suatu hari sang Kucing naik ke atas rak, menggantungkan dirinya dengan satu kakinya pada tali, dengan kepala menghadap ke bawah, seolah-olah telah meninggal. Saat tikus-tikus melihat posisi kucing seperti itu, mereka menyangka bahwa sang Kucing di gantung seperti itu karena melakukan kesalahan.
82 Sekarang tikus-tikus makin berhati-hati. Tetapi sang Kucing yang selalu ingin menangkap tikus, membuat tipuan yang lain. Mengguling-gulingkan tubuhnya ke tempat terigu hingga tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh terigu, lalu sang Kucing berbaring diam-diam dengan satu mata terbuka.
83 Saat sang Kucing yang berbaring diam, telah siap-siap untuk menerkam tikus-tikus tersebut, seekor tikus tua yang berpengalaman dengan tipuan sang Kucing, dan pernah kehilangan ekornya akibat kecerobohannya di masa muda, berdiri sambil menjaga jarak di dekat sarang mereka.
84 Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan. Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.
85 Akhirnya dia menemukan sebuah gua kecil yang terlindung, di mana di dalamnya, hiduplah satu keluarga ular. Sang Landak lalu meminta ijin agar mereka membiarkan dia tinggal bersama di dalam gua kecil itu, dan sang Ular pun tidak merasa keberatan karena gua itu masih cukup besar bagi mereka semua.
86 Lebah pun yakin bahwa harta karun itu adalah milik mereka. Argumen dan perdebatan itu makin lama makin meruncing, dan tampaknya, peristiwa itu tidak bisa diselesaikan tanpa pertempuran. Tetapi pada akhirnya, mereka berdua setuju untuk membiarkan seorang hakim yang akan memutuskan masalah ini.
87 Bukti tersebut tidak dapat menunjukkan secara jelas siapa pemilik sarang yang sah, sehingga sang Hakim pun mendunda pengadilan selama enam minggu untuk memberinya waktu agar dapat memikirkan hal itu. Ketika kasus ini disidangkan kembali, kedua belah pihak memiliki lebih banyak lagi saksi.
88 Karena selama ini mereka terus hidup dalam ketakutan pada cakar kucing tersebut dan mereka terkadang sangat takut untuk keluar dari sarangnya di siang hari maupun malam hari. Banyak rencana yang telah didiskusikan, tetapi tak ada satupun dari rencana tersebut yang mereka rasa cukup bagus.
89 Dahulu kala, ada seekor kucing dan monyet yang hidup berdampingan sebagai hewan peliharaan di suatu rumah. Mereka berteman baik dan sering melakukan kenakalan bersama-sama. Yang ada di pikiran mereka hanyalah makan, dan mereka tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya.
90 Selain itu, sang unta sulit untuk menjaga agar tapak kakinya yang besar tetap terangkat ke atas. Akhirnya, salah satu tapak kakinya yang besar hampir mengenai hidung sang Raja Hutan sehingga hewan-hewan yang jengkel melihat tingkah sang Unta, mengusirnya keluar sampai ke padang gurun.
91 Saya sangat kecil hingga tidak berharga untuk dibawa pulang ke rumah. Saat saya menjadi lebih besar nanti, saya akan menjadi santapan yang lebih lezat untuk tuan." Tetapi sang Nelayan tetap menaruh ikan tersebut di keranjangnya. "Betapa bodohnya saya jika melepaskan ikan ini.
92 Tetapi karena putri yang buruk rupa adalah putri kandung, ibunya sangat mencintai putri tersebut dan putri tirinya-lah yang ditugaskan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Setiap hari putri tirinya duduk di samping sumur dan menenun hingga tangannya berdarah.
93 Hingga akhirnya dia tiba di sebuah rumah kecil, dan seorang nenek yang sudah tua terlihat mengintip keluar dari rumah tersebut. Nenek tersebut memiliki gigi yang sangat besar sehingga sang Putri tiri menjadi ketakutan dan berniat untuk lari, tetapi nenek tersebut memanggilnya kembali.
94 Hari pertama, dia masih bekerja dengan rajin, dia melakukan semua yang nenek Hulda perintahkan, karena sangat ingin mendapatkan emas yang banyak; tetapi hari kedua kemalasannya mulai muncul, begitu pula dengan hari ketiga dan berikutnya, sampai suatu hari dia tidak bangun pagi lagi.
95 Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas. Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk.
96 Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami. "Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas," katanya, "apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum." Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.
97 Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa. Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang.
98 Mereka menyalakan api, sehingga menjadi sangat terang seperti di siang hari. Mereka duduk dalam dua barisan yang melintang, dan mulai meminum anggur dan bergembira seperti manusia. Mereka mengedarkan cangkir minuman anggur begitu sering sehingga banyak dari mereka kelihatannya minum terlalu banyak.
99 Ketika hari mulai fajar, burung-burung mulai bernyanyi, setan-setan tersebut terburu-buru untuk pergi. Orang tua itu meraba wajahnya dan menemukan bahwa wajahnya menjadi mulus tanpa ada benjolan besar lagi di wajahnya. Dia lupa akan kayu yang dipotongnya dan terburu-buru untuk pulang.
100 Istrinya, begitu melihat dia, berteriak kegirangan dan berkata, "Apa yang terjadi denganmu?" Lalu orang tua itu menceritakan semua kisah yang terjadi padanya. Orang tua dengan dua benjolan di pipi Saat itu, diantara tetangganya, ada orang tua juga yang memiliki benjolan di sebelah kiri wajahnya.
101 Mendengan bahwa orang tua yang pertama tadi berhasil menyingkirkan kesialannya, dia berencana untuk melakukan hal yang sama, Lalu dia berangkat ke gunung dan menyelinap ke rongga pohon yang disebutkan oleh orang tua pertama dan menunggu hingga setan-setan tersebut muncul.
102 Empat buah jeruk Sudah merupakan tradisi bahwa orang yang bertamu dan berharap untuk belajar, membawa sedikit hadiah untuk mempererat hubungan, maka sang ayah memerintahkan putranya untuk mengambil koin dengan nilai terkecil, dan membeli selembar kertas dari jenis termurah.
103 Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.
104 Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.
105 Dengan sangat sulit dia bisa memperoleh enam pence (sejenis mata uang) setiap hari. Dia dan istrinya harus bekerja membanting tulang dari subuh hingga larut malam agar mereka dapat hidup dengan tidak kehabisan makanan. Apabila mereka beristirahat, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.
106 Dua orang pengembara berjalan di sepanjang jalan yang berdebu dan tandus di hari yang sangat panas. Tidak lama kemudian, mereka menemukan sebuah pohon besar, dan dengan gembira keduanya lalu berteduh dari teriknya sinar matahari di bawah naungan daun-daun pohon yang lebat.
107 Sang Beruang menari saat si Penjahit Muda memainkan biolanya Ketiga penjahit ini kemudian berangkat menuju ke istana, di mana mereka memperkenalkan diri mereka di hadapan sang Putri, dan memohon untuk diperkenankan menebak teka-teki, karena mereka adalah orang-orang yang pandai dan berotak encer.
108 Tekan senar dengan jari-jari tangan kiri, dan dengan tangan kanan, kamu menarik busur biola di antara senar-senarnya, atas dan ke bawah, tra la la la la." "Oh," teriak sang beruang, "Saya berharap bisa bermain musik seperti itu, sehingga saya bisa menari setiap kali saya inginkan.
109 Penjahit itu sadar akan hal ini; tetapi dia adalah orang yang selalu riang gembira, dan ketika MacDonald sang pemilik kastil menantangnya untuk membuat sepasang celana di rumah berhantu itu, penjahit itu tidak merasa takut, dan malah menerima tantangan itu karena ingin mendapatkan hadiah yang besar.
110 Dan ketika kepala tersebut sepenuhnya muncul dari lantai, sebuah suara yang sangat besar dan menakutkan berkata: "Apakah kamu melihat kepalaku yang sangat besar ini?" "Saya melihatnya, tetapi saya harus menjahit celana ini!" balas penjahit yang riang, dan dia tetap menjahit celana tersebut.
111 Untuk itu, Ia membangun tempat ibadah di Swaffham, dan saat Ia meninggal dunia, orang-orang membangun patung batu untuk mengenangnya di kota Swaffham. Patung tersebut adalah patung yang berbentuk dirinya membawa buntalan besar di punggung dan ditemani oleh anjingnya yang setia.
112 Ayah mereka tidak mempunyai pekerjaan, dan gadis-gadis tersebut ingin keluar dan mencari pekerjaan agar dapat menghidupi orangtua mereka. Satu orang gadis itu ingin bekerja menjadi pelayan, dan ibunya berkata bahwa dia mungkin bisa bekerja apabila dia menemukan tempat untuk bekerja di kota.
113 Lalu roti tersebut berkata, "Gadis kecil, gadis kecil, bawalah kami keluar. Kami telah memanggang selama tujuh tahun, dan tidak ada orang yang pernah membawa kami keluar." Gadis tersebut lalu membawa keluar roti tersebut, membaringkannya di tanah dan segera berjalan pergi kembali.
114 Kemudian dia bertemu dengan seekor sapi, dan sapi tersebut berkata, "Gadis kecil, gadis kecil, perahlah susuku, perahlah susuku! Tujuh tahun saya telah menunggu dan tidak ada orang yang pernah datang untuk memerahku." Gadis tersebut kemudian memerah susu sapi tersebut ke ember yang ada didekatnya.
115 Rumah tersebut di huni oleh seorang penyihir tua, dan penyihir ini berkeinginan untuk membawa gadis tersebut ke rumahnya untuk dijadikan pelayan. Saat dia mendengar bahwa gadis tersebut memang meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan, dia berkata akan mencobanya dan memberikan upah yang pantas.
116 Sayangnya saya tidak memiliki apa-apa! Siapa yang telah meletakkan pot ini disini?" Kemudian dia melihat ke sekeliling berharap bahwa pemiliknya tidak jauh dari sana, tapi dia tidak melihat siapapun disana. "Mungkin pot ini memiliki lubang," katanya lagi, "dan karena itulah pot ini dibuang.
117 Saat itu dia begitu terpana dan tidak bergerak sama sekali, kemudian akhirnya dia berkata "Saya merasa sangat kaya sekarang, benar-benar kaya raya!" Setelah dia mengucapkan kata-kata ini beberapa kali, dia mulai berpikir bagaimana dia dapat membawa harta karun itu kerumahnya.
118 Sekarang dia merasa lelah karena menarik pot yang berat itu, berhenti sejenak untuk beristirahat, dan berbalik melihat ke hartanya. Dan dilihatnya pot itu tidak berisi emas, tapi hanya tumpukan koin perak di dalamnya. Dia menatap pot itu dan menggosok matanya, dan menatap kembali.
119 Di dalam sumur itu, tinggallah seorang Peri Air yang jahat, saat melihat kedua kakak beradik yang jatuh ke sumur, dia lalu berkata, "Sekarang saya telah mendapatkan kalian, kalian harus bekerja keras untuk saya!" Lalu, si Peri Air itu membawa mereka pergi ke tempat tinggalnya.
120 Mereka pun tidak diberi makan yang layak, hanya makanan seadanya yang sekeras batu. Akhirnya kedua anak itu tidak tahan lagi, dan merencanakan untuk melarikan diri dari peri jahat itu. Mereka menunggu hingga si Peri Air itu keluar dari rumah, dan saat itulah mereka melarikan diri.
121 Dia telah mencoba banyak hal, tetapi dia tidak pernah berhasil. Setelah ibunya juga meninggal, anak itu akhirnya menjadi sendirian dan hidup dalam kemiskinan, tanpa makanan dan uang. Suatu hari dia masuk ke gudang rumahnya, berharap bahwa dia akan menemukan sesuatu untuk dijual.
122 Dengan melihat jala ini, dia akhirnya sadar bahwa semasa muda, ayahnya adalah seorang nelayan. Lalu dia mengambil jala itu keluar dan pergi ke laut untuk menangkap ikan. Karena kurang terlatih, dia hanya dapat menangkap dua buah ikan, dimana yang satu dijualnya untuk membeli roti dan kayu bakar.
123 Kemudian dia menghibur dirinya sendiri dengan memandangi ikannya, lalu pergi ke kedai dimana disana dia berpikir, siapa kira-kira yang telah merapihkan rumahnya. Saat sedang berpikir, salah seorang temannya bertanya, apa yang dipikirkannya. Dan anak nelayan tersebut menceritakan semua kisahnya.
124 Akhirnya temannya berkata bahwa dia harus mengunci rumahnya sebelum berangkat dan membawa kuncinya, hingga tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam. Anak nelayan dan Peri Ikan Anak nelayan tersebut akhrnya pulang ke rumah, dan keesokan harinya, dia pura-pura akan keluar bekerja.
125 Padishah menjadi terkejut, tetapi karena tujuan Padishah sendiri bukanlah istana itu melainkan untuk memisahkan anak nelayan dengan wanita yang diidam-idamkannya, Padishah atau Sultan tersebut memberi perintah pada anak nelayan itu untuk membuatkan jembatan dari Kristal menuju ke istananya.
126 Pada hari yang telah ditentukan, semua penduduk yang harus datang menurut undangan dari Padishah, menuju ke rumah anak nelayan tersebut dan mengambil bagian dalam perjamuan besar tersebut. Walaupun semua tamu dapat makan sekenyang-kenyangnya, masih juga banyak makanan yang tersisa.
127 Anak Nelayan kemudian melakukan apa yang disuruhkan oleh wanita itu, tetapi di tengah jalan pulang, dia menjatuhkan satu biji telur dan memecahkannya. Dari telur tersebut, meloncatlah keluar seekor keledai besar, yang akhirnya lari dan menceburkan dirinya ke laut sampai tidak kelihatan lagi.
128 Anak nelayan itu kemudian menyelamatkan Padishah dari bahaya, dan keledai yang tadi lalu berlari keluar dan menceburkan dirinya ke dalam laut. Dengan rasa putus asa, Padishah atau sultan tadi mencari-cari hal yang mustahil dan yang tidak mungkin dapat di kerjakan oleh anak nelayan.
129 Sosok Jin itu berkata, "Dia masih berumur beberapa jam, ibunya mungkin tidak mau memberikannya, tapi, tunggulah sebentar, saya akan mencoba menanyakannya." Bayi dan Padishah Singkat kata, jin tersebut pergi dan segera muncul kembali dengan bayi yang baru lahir ditangannya.
130 Ketika anak nelayan tersebut melihat anak bayi itu, anak bayi itu berlari ke pangkuannya dan berkata "Kita akan ke bibi saya ya?" Anak nelayan mengiyakan dan membawa anak bayi itu ke rumah, dan ketika bayi tersebut melihat wanita itu, dia berteriak "Bibi!" dan memeluknya.
131 Saat sang Kura-kura mendekati garis finish, sang Kelinci terbangun dan berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai garis finish. Tetapi apa daya, walaupun sang Kelinci berlari sekuat tenaga, Ia tidak dapat mengalahkan sang Kura-kura yang telah mencapai finish terlebih dahulu.
132 Mereka menggiring keledai tersebut dengan hati-hati karena sang Petani berharap bahwa keledai itu kemungkinan besar bisa terjual dengan harga yang bagus apabila mereka merawatnya dalam kondisi yang bagus. Di tengah perjalanan, beberapa pejalan kaki mentertawakan mereka.
133 Pohon Oak berdiri dengan gagahnya dan menahan badai tersebut, sementara Alang-alang sebaliknya merunduk lebih rendah. Angin yang bertiup menjadi bertambah kencang dan saat itulah pohon Oak yang perkasa tumbang, tercabut dari akar-akarnya dan terbaring di antara Alang-alang.
134 Kemudian dia mulai berlari, berlari di atas batu-batuan yang tajam dan berlari menembus semak-semak yang berduri, dan binatang liar pun mengerjarnya, tetapi tidak untuk menyakiti Putri Salju. Ia berlari selama kakinya mampu membawa ia pergi, dan saat malam hampir tiba, ia tiba di sebuah rumah kecil.
135 Putri Salju pun masuk ke dalam untuk beristirahat. Segala sesuatu yang berada di dalam rumah, berukuran sangat kecil, tetapi indah dan bersih. Di rumah tersebut terdapat bangku dan meja yang di alas dengan taplak putih, dan di atasnya terdapat tujuh buah piring, pisau makan, garpu dan cangkir minum.
136 Di dekat dinding, terlihat tujuh ranjang tidur kecil, saling bersebelahan, dan dilapisi dengan seprei putih juga. Putri Salju menjadi sangat lapar dan haus, makan dari tiap-tiap piring sedikit bubur dan roti, dan minum sedikit dari tiap-tiap cangkir, agar ia tidak menghabiskan satu piring saja.
137 Tidak lama setelah itu, menjelang malam, para kurcaci pulang ke rumah, dan mereka semua terkejut melihat Putri Salu terbaring di tanah, tidak bergerak; mereka mengangkatnya dan saat mereka melihat pita yang melilit leher Putri Salju, mereka memotongnya dan saat itu Putri Salju bernapas kembali.
138 Walaupun meninggal, Putri salju terlihat seolah-olah masih hidup dengan pipinya yang merona. Para kurcaci kemudian berkata, "Kita tidak akan menguburnya di tanah yang gelap." Lalu merekapun membuat peti yang terbuat dari gelas yang bening sehingga mereka dapat melihat Putri Salju dari segala sisi.
139 Putri Salju dibaringkan di peti tersebut, dan di peti itu ditulislah nama Putri Salju dengan tulisan emas, beserta kisah bahwa ia adalah putri seorang raja. Kemudian mereka meletakkan peti itu di atas gunung, dan salah satu dari mereka selalu tinggal untuk mengawasinya.
140 Ia berkata kepada para kurcaci, "Biarkan saya memiliki peti beserta Putri Salju ini, saya akan memberikan apapun yang kalian minta." Tetapi kurcaci menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berpisah dengan Putri Salju walaupun dibayar dengan emas yang ada di seluruh dunia.
141 Sang Pangeran lalu berkata lagi, "Saya lebih memilih kamu dibandingkan dengan apapun yang ditawarkan oleh dunia; ikutlah bersama saya menuju istana ayahku dan jadilah pengantinku." Putri Salju yang baik hati, ikut bersama pangeran dan direncanakanlah pesta perkawinan yang meriah untuk mereka berdua.
142 Bahkan atap dan cerobong asap juga sudah tidak dapat dilihat karena telah tertutup oleh tanaman tersebut. Tetapi kabar tentang putri cantik yang tertidur menyebar ke seluruh daratan sehingga banyak anak-anak Raja dan Pangeran mencoba untuk datang dan berusaha untuk masuk ke dalam istana itu.
143 Kemudian seorang pangeran yang mendengar ceritanya berkata, "Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya, Saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut." Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah pangeran itu untuk pergi, pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.
144 Putri Tidur terlihat begitu cantik sehingga sang Pangeran tidak dapat melepaskan matanya dari sang Putri. Sang Pangeran lalu berlutut dan mencium sang Putri. Saat itulah sang Putri membuka matanya dan terbangun, tersenyum kepada sang Pangeran karena kutukan sang peri ketiga belas telah patah.
145 Dia kemudian melakukan perjalanan mengelilingin dunia hanya untuk mencari putri tersebut, tetapi dia selalu menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak sempurna pada setiap Putri Raja yang ditemuinya. Dia menemukan banyak Putri Raja, tapi tak ada yang benar-benar dianggap sempurna oleh Pangeran itu.
146 Dengan putus asa akhirnya dia pulang kembali ke istananya dan merasa sangat sedih karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Suatu malam, terjadi hujan badai yang sangat keras; dimana kilat dan guntur beserta hujan turun dengan deras sekali; malam itu sungguh menakutkan.
147 Ditengah-tengah badai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu istana, dan ayah Pangeran yang menjadi Raja waktu itu, sendiri keluar membuka pintu untuk tamu tersebut. Seorang Putri yang sangat cantik berdiri di luar pintu, kedinginan dan basah kuyup karena badai pada malam itu.
148 Selain menolak, sang Putri sering mengolok-olok mereka. Pada suatu ketika, sang Raja mengadakan pesta besar dan mengundang semua Raja dan pemuda bangsawan yang belum menikah untuk hadir di pestanya. Saat pesta, mereka yang datang diatur untuk duduk sesuai dengan kedudukan dan pangkatnya.
149 Sejak saat itu, raja tersebut disebut dengan julukan "Paruh Lancip". Ayah sang Putri yang sangat marah karena melihat putrinya mengolok-olok semua yang hadir, membatalkan perjamuan, dan bersumpah bahwa sang Putri akan dinikahkan dengan pengemis yang pertama masuk ke pintu istana.
150 Hari pertama semua berjalan baik, orang-orang senang membeli jualannya karena sang Putri sangat cantik. Mereka membeli pot dan pecah-belahnya dengan harga berapa pun yang diberikan oleh sang Putri, sebagian malah memberikan dia uang tanpa mengambil pot pecah-belah yang telah dibeli.
151 Saya lihat kamu tidak cocok mengerjakan pekerjaan biasa. Saya telah mencoba bertanya di istana kerajaan ini, siapa tahu mereka bisa menerima kamu bekerja sebagai pembantu di dapur, dan mereka tidak keberatan untuk menerima kamu. Kamu juga akan menerima makanan secara gratis di sana.
152 Saat pelayan lewat sambil membawa piring-piring yang berisikan makanan yang lezat lalu-lalang di depannya, pelayan tersebut membagi sedikit makanan untuk sang Putri yang langsung diselipkan ke dalam sakunya, dengan rencana akan dibawa pulang untuk dimakan bersama suaminya.
153 Saat orang melihat kejadian itu, semua tertawa terbahak-bahak. Sang Putri pun bergegas meninggalkan istana dengan perasaan malu, tetapi sebuah tangan menggenggam kembali tangannya. Saat sang Putri berbalik dan melihat ke belakang, dilihatnya Raja Dagu Lancip tengah menatap wajahnya dengan serius.
154 Suatu waktu, ia berdiri di belakang sebuah pohon, ia melihat si Penyihir yang datang ke sana, dan dia pun mendengarkan penyihir tersebut berkata, "Rapunzel, Rapunzel, Ulurkanlah rambutmu ke bawah untuk saya." Kemudian Rapunzel mengulurkan rambutnya turun, dan si Penyihir pun naik keatas.
155 Pada awalnya Rapunzel sangat ketakutan ketika dia melihat seorang pria yang tidak pernah dilihatnya, tetapi pangeran berbicara dengannya dengan halus layaknya seorang teman, dan mengatakan bahwa hatinya tidak tenang apabila dia tidak melihat Rapunzel setelah mendengarkan Rapunzel menyanyi.
156 Sang Pangeran berjalan tanpa arah dalam keadaan menderita selama beberapa tahun, dan pada suatu saat, tibalah ia di sebuah padang pasir di mana Rapunzel berada. Saat itu, sang Pangeran mendengar suara nyanyian yang sangat akrab didengarnya, dan ia pun berjalan menuju ke arah itu.
157 Mereka lalu berteriak memanggilnya sekali, dua kali, dan pada ketiga kalinya, orang tua tersebut berdiri, membuka pintu, lalu keluar dari kamar. Tanpa berkata apa-apa, dia membimbing mereka ke sebuah meja yang penuh dengan barang-barang yang bagus dan makanan-makanan yang lezat.
158 Dia pun dalam sekejap berubah menjadi batu. Saat si Bodoh mendapatkan gilirannya, dia mulai mencari di seluruh hutan dan di bawah lumut, tetapi pencarian mutiara ini betul-betul bukan merupakan tugas yang gampang, hingga akhirnya si Bodoh mulai berputus asa, duduk di sebuah batu dan mulai menangis.
159 Hal kedua yang tertulis di meja batu adalah mendapatkan kunci kamar tidur sang Putri Raja dari dalam danau. Dan saat si Bodoh datang ke danau, bebek yang hidupnya pernah diselamatkan olehnya, datang berenang, menyelam, dan membawakan kunci yang ditemukan di dasar danau.
160 Semua putri memiliki wajah yang mirip antara satu dengan yang lainnya, dan yang bisa menjadi perbedaan diantara mereka adalah, sebelum mereka tertidur, mereka meminum tiga jenis minuman yang manis. Putri yang tertua meminum air gula, yang kedua meminum syrup, dan yang termuda meminum madu.
161 Buah anggur itu terlihat begitu ranum, kelihatan sangat lezat dan berisi penuh, dan mulut sang Rubah menjadi terbuka serta meneteskan air liur saat menatap buah anggur yang bergantungan. Buah anggur itu tergantung pada dahan yang cukup tinggi, dan sang Rubah harus melompat untuk mencapainya.
162 Saat pertama kali melompat untuk mengambil buah tersebut, sang Rubah tidak dapat mencapainya karena buah itu tergantung cukup tinggi. Kemudian sang Rubah mengambil ancang-ancang dan berlari sambil melompat, tetapi kali ini sang Rubah masih juga tidak dapat mencapai buah anggur tersebut.
163 Sekarang dia lalu duduk dan memandang buah anggur itu dengan rasa penasaran. "Betapa bodohnya saya," katanya. "Disini saya terus mencoba untuk mengambil buah anggur yang kelihatannya tidak enak untuk dimakan." Kemudian sang Rubah lalu berjalan pergi dengan perasaan yang sangat kesal.
164 Dia sangat ingin disebut sebagai ratu dari segala burung. Dia lalu membuka paruhnya lebar-lebar untuk mengeluarkan kicauannya yang terkeras, dan saat itu jatuhlah keju dari paruhnya langsung menuju mulut rubah yang terbuka. "Terima kasih," kata sang Rubah dengan manisnya sambil berjalan pergi.
165 Ia lalu mengagumi kedua tanduknya yang sangat indah, tetapi merasa malu dengan kakinya yang kurus. "Bagaimana hal ini bisa terjadi, sepertinya saya tidak beruntung memiliki kaki kurus seperti ini sementara di kepala saya terpasang tanduk indah yang seperti mahkota." Keluhnya.
166 Sehingga mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan tanah pertanian dan melakukan perjalanan keliling dunia melalului sebuah jalan yang menuju ke hutan. Kedua sahabat itu berjalan bersama dengan semangat dan tidak bertemu dengan petualangan yang mereka sering bicarakan.
167 Suatu hari saat anak-anaknya kembali bertengkar dengan hebatnya, sang Ayah menyuruh salah seorang dari anaknya untuk mengambil sekumpulan kayu yang telah di ikat dan disatukan. Kemudian sang Ayah secara bergiliran menyuruh anak-anaknya mencoba untuk mematahkan seikat kayu tersebut.
168 Menyadari bahwa sang Raja mengamatinya, dan tahu bahwa sang Raja ini sangat menggemari ikan tertentu, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ketepian, datang dan berlutut pada sang Raja dan memohon agar sang Raja mau menerima ikan tersebut sebagai hadiah.
169 Semua nelayan yang mungkin berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang pertama, mereka akan pergi dengan rasa tidak puas, dan dengan diam-diam akan berbicara jelek tentang kamu diantara teman-temannya.
170 Nelayan pergi dengan membawa sekantong uang Kemudian nelayan itu menyimpan uang tersebut dalam kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul kantong tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan satu koin kecil.
171 Dengan menaruh kantong tersebut kembali ke tanah, dia membungkuk dan memungut koin itu dan kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan pandangan mata Raja dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya. "Lihat! betapa pelitnya dia!" kata Sherem, sang Ratu, dengan bangga atas kemenangannya.
172 Bukan nilai dari koin tersebut yang hamba pungut, tetapi karena pada satu sisi koin tersebut tertera tulisan pujian atas nama Tuhan, dan disisi lainnya tergambar wajah Raja. Hamba takut bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena tidak melihat koin tersebut, akan menginjaknya.
173 Serigala itu begitu kurusnya sehingga terlihat seperti tulang yang terbungkus kulit saja, dan hal ini membuat serigala tersebut menjadi sedih. Suatu malam, sang Serigala berpapasan dengan seekor anjing rumah yang gemuk dan sehat, yang berkeliaran sedikit jauh dari rumah tinggalnya.
174 Pada suatu sore, seekor serigala meninggalkan sarangnya dengan hati yang senang dan bersemangat untuk berjalan-jalan. Saat dia berlari, matahari senja membuat bayangannya pada tanah menjadi terlihat panjang, seolah-olah serigala itu menjadi lebih besar beberapa kali dari yang sebenarnya.
175 Sang Serigala yang tidak sadar akan kehadiran sang Singa dan masih mengagumi besar bayangannya pada tanah tiba-tiba dikejutkan dengan bayangan yang jauh lebih besar hingga menutupi seluruh bayangannya. Saat itu juga sang Singa memukulnya dengan sekali pukul hingga sang Serigala jatuh terkapar.
176 Seekor serigala lapar hanya dapat memandang seekor kambing yang berada pada tebing di atas bukit, di mana tebing tersebut tidak dapat diakses dan dijangkau olehnya. "Tempat itu sangat berbahaya untuk kamu," kata sang Serigala, berpura-pura khawatir akan keamanan sang Kambing.
177 Suatu sore ketika gerombolan kambing mulai pulang ke peternakan kembali dan ibunya sudah memanggilnya, anak kambing tersebut tidak memperhatikan dan memperdulikan panggilan ibunya. Dia tetap tinggal di lapangan rumput tersebut dan mengunyah rumput-rumput yang halus disekelilingnya.
178 Beberapa saat kemudian ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat gerombolan kambing termasuk ibunya sudah tidak ada lagi. Sekarang dia tinggal sendirian. Matahari sudah terbenam. Bayangan panjang mulai menutupi tanah. Angin dingin mulai datang bertiup dan membuat suara yang menakutkan.
179 Kemudian dia mulai lari sekencang-kencangnya melewati lapangan rumput untuk pulang ke peternakan, sambil mengembik-embik memanggil ibunya. Tetapi di tengah jalan, dekat pohon perdu, apa yang ditakutkan benar-benar terjadi, seekor serigala telah berdiri di sana memandangnya dengan wajah lapar.
180 Anjing-anjing gembala yang menjaga gerombolan kambing tersebut lansung menajamkan telinganya dan mengenali lagu yang dimainkan oleh serigala, dan dengan cepat anjing-anjing gembala tersebut lari ke arah serigala tersebut dan menyelamatkan kambing kecil yang sedang menari-nari.
181 Setelah itu lewatlah seorang anak kecil yang sedang pergi ke sekolah. "Apakah itu yang dinamakan manusia?" "Tidak, tapi suatu saat ia akan menjadi manusia." Akhirnya lewatlah seorang pemburu dengan senapan laras ganda yang disandarkan di punggungnya, dan belati yang digantungkan pada pinggangnya.
182 Sang Rubah berkata ke serigala, "Lihat, itulah yang disebut dengan manusia, engkau boleh menyerangnya, tetapi tunggu sampai saya telah bersembunyi terlebih dahulu." Serigala kemudian bergegas menyerang manusia tersebut. Ketika sang Pemburu melihat serigala, ia berkata pada dirinya sendiri.
183 Serigala yang terkejut, menarik wajah yang terasa sakit karena tembakan senapan, tetapi sang Serigala tidak membiarkan dirinya menjadi takut, dan mulai menyerang kembali. Saat itu sang Pemburu menembakkan larasnya yang berikut. Serigala menahan rasa sakitnya, dan bergegas menyerang pemburu kembali.
184 Tetapi sang Serigala terlihat tidak pernah mencoba untuk memangsa dombanya, malahan terlihat membantu sang Gembala menjaga dan menggembalakan domba. Pada akhirnya sang Gembala terbiasa melihat bagaimana sang Serigala menjaga dombanya sehingga sang Gembala lupa betapa jahatnya sang Serigala.
185 Si Compang-Camping menari bersama angsa di iringi suara suling dari si Gembala Angsa Akhirnya sang Cucu beranjak menjadi dewasa dengan makanan dan pakaian yang seadanya, menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan hanya di temani oleh seorang penggembala angsa yang pincang.
186 Sang perawat tua menangis sedih karena tidak berhasil membujuk tuannya, berusaha untuk mencari si Compang-camping; tetapi gadis tersebut telah diusir keluar oleh tukang masak di dapur, dan mencari temannya si Gembala angsa untuk menceritakan kepedihannya karena tidak dapat hadir di pesta sang Raja.
187 Sebelum mereka berjalan terlalu jauh, seorang pemuda yang tampan, berpakaian mewah, berkendara kuda, berhenti untuk menanyakan arah kastil di mana sang Raja menginap, dan ketika dia tahu bahwa arah yang mereka tuju adalah sama, sang Pemuda turun dari kudanya dan berjalan bersama mereka.
188 Nada sulingnya sangat aneh, dan membuat sang Pemuda menatap dan menatap terus ke arah si Compang-Camping hingga dia tidak memperhatikan lagi baju yang penuh tambalan yang tengah dikenakan oleh si Compang-Camping. Hanya wajah cantik si Compang-Camping yang terlihat menarik perhatian sang Pemuda.
189 Kemudian pemuda itu mulai menebang pohon, dan saat itu kapaknya terselip dan melukai tangannya sendiri sehingga dia terpaksa pulang ke rumah untuk membalut lukanya. Ternyata, semua kecelakaan yang terjadi itu adalah hasil perbuatan dari si Pria Tua kecil yang tadi ditemuinya.
190 Pria tua kecil juga bertemu dengannya, dan memohon untuk diberikan sedikit kue dan minuman, tetapi si Putra Kedua menjawab, "Apabila aku memberikan kue lezat dan minuman segar ini, aku tidak memiliki apa-apa lagi, jadi pergilah kamu." Dia pun lalu meninggalkan si Pria Tua kecil berdiri di sana.
191 Kemudian si Lugu berkata kepada ayahnya, "Ayah, biarkan aku pergi ke hutan untuk menebang pohon. Namun ayahnya menolaknya, dengan menjawab, "Saudara-saudaramu telah mengalami kecelakaan sampai melukai diri sendiri, apalagi kamu yang tidak mengerti apa-apa tentang bagaimana cara menebang pohon.
192 Si Lugu lalu menagih janji agar sang Putri bisa menjadi istrinya, tetapi sang Raja menjadi kesal karena si Lugu berhasil memenuhi tugas yang diberikan. Sang Raja pun membuat satu persyaratan baru. Si Lugu harus bisa menemukan orang yang bisa memakan segundukan roti yang sangat banyak.
193 Sesosok orang tua dengan jenggot abu-abu yang sangat panjang datang kepadanya dan berkata bahwa jika sang Putri bersedia menjadi pelayannya dan melakukan segala sesuatu yang dia perintahkan, sang Putri akan tetap dibiarkan hidup. Sang Putri pun terpaksa melakukan semua yang dia perintahkan.
194 Jadi dia memasukkan janggutnya terlebih dahulu melalui jendela kecil yang terbuka itu, tetapi saat ia memasukkan janggutnya, sang Putri menarik jendela tersebut hingga tertutup dengan tali yang ia telah ikat dan persiapkan untuk itu, sehingga janggut si Tua Rinkrank terjepit di daun jendela.
195 Si Tua Rinkrank pun mulai berteriak memelas karena merasa sangat kesakitan, dan memohon agar sang Putri melepaskan janggutnya. Tapi sang Putri mengatakan bahwa dia tidak akan melepaskan janggut si Tua kecuali si Tua Rinkrank memberinya tangga untuk naik ke puncak gunung.
196 Seekor Singa dan Keledai yang telah lama saling mengenal, setuju untuk pergi berburu bersama. Dalam pencarian mereka di hutan, kedua Pemburu ini melihat banyak kambing hutan yang lari bersembunyi dalam satu gua. Diaturlah rencana yang bagus untuk menangkap kambing hutan tersebut.
197 Sang Keledai membuat suara-suara ribut yang menakutkan di dalam gua dengan cara menendang-nendang dan berteriak-teriak sekuat tenaga sehingga kambing-kambing yang ketakutan, lari keluar dan menjadi mangsa sang Singa. Sang Keledai pun keluar dari gua dan berjalan dengan bangganya.
198 Sang Lebah lalu terbang menjauh untuk memberitakan kemenangannya ke seluruh dunia, tetapi sialnya, dia terbang menuju ke sebuah jaringan laba-laba dan terperangkap disana. Akhirnya, sang Lebah yang telah berhasil mengalahkan singa si Raja Hutan, nasibnya berakhir menjadi mangsa dari laba-laba kecil.
199 Seekor tikus kecil secara tidak sengaja berjalan di dekatnya, dan setelah tikus itu sadar bahwa dia berjalan di depan seekor singa yang tertidur, sang Tikus menjadi ketakutan dan berlari dengan cepat, tetapi karena ketakutan, sang Tikus malah berlari di atas hidung sang Singa yang sedang tidur.
200 Sang Tikus kemudian menemukan sang Singa yang meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari jala yang menjeratnya. Sang Tikus kemudian berlari ke tali besar yang menahan jala tersebut, dia lalu menggigit tali tersebut sampai putus hingga akhirnya sang Singa dapat dibebaskan.
201 Dia memberi tahu semua tetangga-tetangganya bahwa dia sekarang sakit keras. Sang Singa Tua itu lalu berbaring di sarangnya sambil menunggu pengunjung dan tamu yang akan menjenguknya. Dan saat pengunjung datang untuk menjenguknya, dia akan menerkam dan memangsa mereka satu persatu.
202 Suatu saat, datanglah seekor rubah, tetapi rubah tersebut sangat hati-hati dan menjaga jarak dengan sang Singa Tua. Sang Rubah lalu menanyakan dengan sopan bagaimana kondisi kesehatan sang Singa. Sang Singa lalu menjawab bahwa dia sangat sakit dan meminta agar sang Rubah mendekat untuk melihatnya.
203 Seekor singa, seekor keledai dan seekor rubah, berburu bersama-sama dan berhasil menangkap banyak hewan hutan. Sang Keledai pun di minta untuk membagi hewan tangkapan tersebut, dan sang Keledai membaginya dengan sangat adil, membaginya menjadi tiga bagian yang sama banyak.
204 Dia tidak bisa berpikir di mana lagi dia bisa beristirahat menghabiskan malamnya. Tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang berjalan menuju sebuah rumah kecil, dan ketika gadis tersebut semakin dekat, maka terlihatlah bahwa gadis tersebut masih muda dan cantik. Sang Pangeran pun bertanya kepadanya.
205 Akan tetapi ketika dia berbicara, gelas kacanya retak dan racun di dalam gelas itu pun tumpah di atas kuda. Racun tersebut begitu kuatnya sehingga kuda malang tersebut langsung terkapar dan mati. Pelayan itu ketakutan dan berlari mengejar tuannya dan menceritakan apa yang telah terjadi.
206 Karena sang Pangeran tidak ingin kehilangan pelana kudanya, dia kembali berputar untuk mengambilnya. Ketika dia sampai ke tempat di mana kuda pelayannya mati, dia melihat bahwa seekor gagak telah bertengger di bangkainya dan mulai mematuk bangkai kuda yang telah mati tadi.
207 Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sepanjang hari melalui hutan yang seperti tanpa ujung. Pada malam hari, mereka mencapai sebuah penginapan, dan sang Pelayan memberikan gagak yang tadi ditangkapnya kepada pemilik penginapan agar dimasak dan dijadikan makan malam mereka.
208 Namun, sebelum mereka mulai melakukan aksi kejahatannya, mereka duduk bersama di meja makan, di mana sang pemilik penginapan dan penyihir tua turut bergabung dengan mereka untuk makan bersama hidangan berupa kaldu yang di dalamnya terdapat daging gagak yang telah direbus tadi.
209 Akan tetapi sang Pangeran menolak menerimanya, dan menyuruh agar dia saja yang menjaga dan menyimpannya untuk keperluan dirinya sendiri. "Aku tidak menginginkan harta itu, simpanlah dan pakailah untuk keperluanmu sendiri," seru sang Pangeran sembari melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya.
210 Tetapi pelayan setia Pangeran, tanpa disangka-sangka telah bertukar tempat dengan sang Pangeran dengan menyamar sebagai sang Pangeran. Ketika pelayan suruhan sang Putri masuk, dia pun merebut jubah yang membungkus diri pelayan suruhan sang Putri itu, dan mengejarnya dengan sabetan cambuk.
211 Akhirnya mereka sepakat untuk memberikan apa saja yang putera kedua inginkan sebagai ganti rugi untuk sabit tersebut, dan ia pun menerima kuda yang sarat dengan emas seberat yang bisa di bawa oleh kuda tersebut. Dan sekarang putera ketiga juga ingin membawa kucingnya ke negeri yang tepat.
212 Kemudian Raja memanggil penasihat dan bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan, dan mereka mengambil keputusan untuk mengirimkan utusan untuk meminta agar sang Kucing meninggalkan istana itu dan jika sang Kucing tidak meninggalkan istana, sang Kucing akan diusir dari istana dengan paksa.
213 Satu beruang berukuran kecil, satu beruang berukuran sedang, dan satunya lagi berukuran besar. Mereka memiliki setiap mangkuk untuk bubur mereka, sebuah mangkuk kecil untuk beruang kecil, mangkuk berukuran menengah untuk beruang sedang, dan mangkuk besar untuk beruang besar.
214 Para beruang membagikan bubur Suatu hari, setelah mereka telah membuat bubur untuk sarapan mereka, dan menuangkannya ke dalam bubur mangkuk mereka, mereka berjalan keluar ke dalam hutan sambil menunggu sampai bubur mereka menjadi dingin agar mulut mereka tidak kepanasan saat memakannya.
215 Dan sementara mereka keluar berjalan-jalan, seorang gadis kecil bernama Goldilocks kebetulan tiba di rumah para beruang. Pertama, Goldilocks melihat dari jendela, dan kemudian dia mengintip dari lubang kunci, dan karena dia tidak melihat siapapun di rumah tersebut, ia pun memutar pegangan pintu.
216 Dan kemudian dia duduk di kursi milik beruang kecil, dan dia merasa kursi tersebut sangatlah tepat untuknya karena tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. Jadi dia pun duduk sendiri di kursi tersebut sampai bagian bawah kursi itu menjadi rusak dan dia terperosok jatuh ke lantai.
217 Kemudian Goldilocks naik ke lantai atas ke kamar di mana tiga beruang tidur. Pertama-tama dia berbaring di atas tempat tidur yang besar, tapi itu tempat tidur itu terlalu besar untuknya. Berikutnya ia berbaring di atas tempat tidur beruang sedang, dan itu pun dirasanya terlalu besar.
218 Jadi ia pun menutupi dirinya dengan selimut yang nyaman, dan berbaring di sana sampai ia jatuh tertidur. Para beruang terkejut melihat ada orang yang telah menyentuh bubur mereka Pada saat ini para beruang berpikir bahwa bubur mereka cukup dingin, mereka pun pulang kembali ke rumah untuk memakannya.
219 Tadinya Goldilocks telah meninggalkan sendok besar milik beruang besar di mangkuk buburnya. "Seseorang telah menyentuh bubur saya!" kata beruang besar, dengan suara yang berat dan dalam. Dan ketika beruang sedang menatap bubur miliknya, dia melihat bahwa sendoknya juga ada di dalam mangkok juga.
220 Setelah ketiga beruang menyadari bahwa ada seseorang yang telah memasuki rumah mereka, dan memakan semua sarapan untuk beruang kecil, mereka mulai mencari-cari ke sekitar mereka. Tadinya Goldilocks tidak mengembalikan bantal kursi pada kursi beruang besar setelah duduk.
221 Beruang kecil melihat kursinya yang rusak "Seseorang telah duduk di kursi saya, dan telah duduk sehingga kursi saya rusak!" kata beruang kecil dengan suaranya yang kecil. Kemudian ketiga beruang membuat pencarian lebih jauh lagi, hingga akhirnya mereka naik ke lantai atas, ke kamar tidur mereka.
222 Tetapi sang Singa tidak pernah meninggalkan padang tersebut karena selalu tergiur untuk memangsa kawanan lembu itu. Suatu hari, kawanan lembu ini bertengkar hebat sesamanya, dan akibat pertengkaran itu, mereka sekarang berdiri sendiri-sendiri, terpisah jauh antara yang satu dengan yang lainnya.
223 Dahulu kala ada seorang gadis yang sangat malas dan tidak pernah mau menenun kain, dan ibunya tidak pernah bisa membujuk gadis tersebut untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ibunya menjadi sangat marah dan kehilangan kesabaran dan mulai memukul anak gadisnya dengan keras.
224 Alasan itu membuat Ratu menjadi tenang, tetapi ketika Ratu akan beranjak pergi, dia mengatakan "Besok pekerjaan kamu harus dimulai." Ketika gadis itu sendirian lagi, dia tidak dapat berbuat apa apa untuk menolong dirinya sendiri atau melakukan apapun yang sudah seharusnya dilakukan.
225 Selanjutnya, ketiga serdadu melanjutkan perjalanan bersama sampai tiba di suatu kota di mana ada seorang putri raja yang sangat bangga dengan kemampuannya bermain kartu, bahkan sang Putri berjanji bahwa dia akan setuju untuk menikahi pria yang bisa mengalahkan dia bermain kartu.
226 Sang putri pun setuju untuk bermain demi mendapatkan kantongan itu. Tetapi dengan liciknya, dia telah mengatur cermin di bagian belakang kepala sersan sehingga dia bisa melihat semua kartunya. Karena itu, dia dapat menang mudah, dan si Sersan harus kehilangan kantongan dompetnya.
227 Dia setuju untuk bermain sekali lagi untuk mendapatkan taplak meja itu, karena yakin dengan memakai cermin dia bisa memenangkan taplak meja dari si Sersan. Hal yang sama terulang kembali ketika si Sersan meminjam peluit dari si Prajurit, dan mencoba peruntungannya sekali lagi dengan sang Putri.
228 Mereka semua berjalan dan berjalan lagi sampai akhirnya mereka tiba di tepi sungai di mana pada tepiannya tumbuh pohon ara berwarna putih dan hitam. Si Sersan pun mengumpulkan beberapa buah ara dari pohon yang berbeda, lalu duduk di tepi sungai sambil memakan buah tersebut.
229 Dia menjadi mengerti bahwa buah ara hitam akan menumbuhkan tanduk dan buah ara putih menghilangkan tanduk yang muncul. Dia lalu mengumpulkan lebih banyak buah ara tersebut dan kembali ke kerajaan sang putri, lalu mengirimkan beberapa buah ara hitam sebagai hadiah dari seorang pengagum.
230 Sang Putri tetap menolak untuk dinikahi. "Mungkin saya curang, mungkin tidak, tetapi saya tidak melihat alasan apapun yang mengharuskan saya harus menikah dengan kamu." Kemudian si Sersan pun meniup peluitnya, dan dalam sekejap istana terisi penuh dengan pasukan serdadu.
231 Setelah makan, kedua tikus berbincang-bincang cukup panjang, tikus kota menceritakan tentang kehidupan di kota, sedangkan tikus desa mendengarkan ceritanya. Mereka berdua akhirnya tidur dengan tenang dan nyaman di sarang yang nyaman di antara semak-semak dan pepohonan sampai pagi hari.
232 Dengan senang hati musang menerima tantangan karena mereka selalu siap untuk bertempur apabila mangsa mereka ada di depan mata. Mereka langsung menyerang pasukan tikus dalam jumlah yang besar. Dalam waktu sekejap, barisan tikus tercerai-berai dan mereka lari berhamburan menyelamatkan diri.
233 Pasukan tikus dengan pangkat rendah, dengan mudah masuk bersembunyi ke dalam lubang tikus, tetapi pimpinan-pimpinan mereka sulit untuk masuk ke dalam lubang yang sempit karena perhiasan yang melekat di atas kepala mereka. Saat itulah ajal mereka berakhir dan menjadi mangsa oleh musang yang lapar.
234 Seekor tikus yang lapar, menemukan sebuah keranjang yang penuh dengan jagung. Ia lalu berusaha untuk masuk ke keranjang tersebut melalui satu celah yang sangat sempit yang menutupi mulut keranjang. Jagung tersebut begitu menggiurkan sehingga sang Tikus memaksa dirinya untuk masuk ke dalam keranjang.
235 Sang Gadis menjadi sangat sedih dan bertekad untuk mencari ketujuh saudaranya secara diam-diam. Dia tidak membawa apapun kecuali sebuah cincin kecil milik orangtuanya, sebuah roti untuk menahan lapar dan sedikit air untuk menahan haus. Gadis tersebut berjalan terus, terus sampai ke ujung dunia.
236 Gadis tersebut kemudian mengambil tulang tersebut, menyimpannya dengan hati-hati di pakaiannya dan pergi ke arah gunung yang di tunjuk oleh bintang fajar. Ketika dia telah tiba di gunung tersebut, dia baru sadar bahwa tulang untuk membuka kunci gerbang gunung telah hilang.
237 Orang kerdil tersebut lalu berkata, "Tuanku belum pulang ke rumah, jika kamu ingin menemuinya, silahkan masuk dan kamu boleh menunggunya di sini." Lalu orang kerdil tersebut menyiapkan makan siang pada tujuh piring kecil untuk ketujuh saudara laki-laki sang Gadis yang telah menjadi burung gagak.
238 Ibunya pulang ke rumah pada akhirnya, dan mengambil Gustava ke dalam pelukannya. Tuk Kecil dengan cepat berlari ke dekat jendela, lalu membuka buku pelajarannya, dia pun membaca dan membaca lagi sampai akhirnya matanya sedikit perih karena saat itu hari sudah mulai gelap.
239 Tidak ada lilin yang bisa dinyalakan, sehingga dia tidak bisa belajar lagi. Akhirnya Tuk Kecil pergi ke tempat tidurnya. Di sana dia berbaring memikirkan pelajaran geografi yang sempat dipelajarinya tadi siang sampai sore, tentang kota-kota di Seeland, dan semua yang gurunya pernah jelaskan.
240 Dia tidak bisa membaca buku lagi, karena hari telah gelap. Jadi, dia meletakkan buku geografinya di bawah bantalnya, karena ia pernah mendengar seseorang yang mengatakan kepadanya bahwa hal tersebut akan membantunya untuk mengingat pelajarannya, walaupun Tuk Kecil tidak yakin akan kebenaran hal itu.
241 Ayam itu pun kemudian menceritakan berapa banyak penduduk di kota kecil itu, tentang pertempuran yang dulu terjadi di sana, dan hal-hal besar yang pernah terjadi dan layak disebutkan dalam sejarah. Tidak begitu lama, seekor burung kayu yang besar melompat naik ke atas tempat tidurnya.
242 Dalam sekejap, pagi telah tiba, lampu dimatikan, matahari mulai terbit, dan garis-garis besar bangunan terlihat memudar, dan akhirnya tinggal satu menara tinggi saja tetap yang menjadi tanda di mana istana kerajaan itu pernah berdiri. Kota besar telah menyusut menjadi kota kecil dan miskin.
243 Anak-anak sekolah yang mempelajari sejarahnya, hanya tahu bahwa jumlah penduduk di kota itu sekarang hanya berkisar dua ribu jiwa. Tuk Kecil masih berbaring di tempat tidurnya. Dia tidak tahu apakah sedang bermimpi atau tidak, tetapi sekali lagi terasa ada seseorang yang berada di sampingnya.
244 Pada dahulu kala, orang menyebut kota itu adalah kota yang buruk, tetapi sekarang tidak lagi." Tuk Kecil hanya diam menyimak sementara si Pelaut Muda itu masih bercerita. "Kota Korsor terletak di tepi laut. Di sana masih ada jalan besar yang luas, dan juga taman yang menyenangkan.
245 Dari sisi bukit yang ditumbuhi rumput, menyemburlah air mancur disertai pelangi, dan didengarnya suara musik mengalun. Tidak lama kemudian, terlihat seorang raja yang duduk di sampingnya, mengenakan mahkota emas kepalanya yang ditumbuhi rambut yang hitam legam dan panjang.
246 Sekarang, di hadapannya berdirilah seorang wanita petani tua dari Kota Soro, kota kecil yang tenang di mana rumput hijau tumbuh subur di mana-mana. Celemek berwarna hijau diletakkan di atas kepala dan punggungnya, dan celemek tersebut terlihat sangat basah, seolah-olah itu telah turun hujan keras.
247 Tiba-tiba dia membungkukkan tubuh dan mengguncang kepalanya seolah-olah dia adalah seekor katak yang akan melompat. "Semuanya basah, selalu basah," seru si Wanita itu sebelum dia berubah menjadi seekor katak. "Kita harus berpakaian sesuai dengan kondisi cuaca," katanya.
248 Suaranya membuat Tuk Kecil pun makin lama makin mengantuk sehingga akhirnya tertidur. Tetapi dalam tidurnya pun, Tuk Kecil bermimpi. Adik perempuannya, Gustava, dengan matanya yang berwarna biru dan rambutnya yang berwarna kuning keemasan, telah tumbuh menjadi gadis yang tinggi dan sangat cantik.
249 Dahulu kala, ada seorang tukang sepatu yang riang gembira dan senang menyanyi dari pagi sampai malam. Sungguh menyenangkan melihatnya bekerja, dan lebih menyenangkan lagi saat mendengarnya menyanyi. Sepertinya tukang sepatu ini adalah orang yang paling berbahagia di dunia.
250 Saat seekor kucing membuat keributan di malam hari, ia percaya bahwa kucing tersebut akan mencuri uangnya. Akhirnya dalam keadaan hampir putus asa, sang Tukang Sepatu yang sekarang menjadi kusut, berlari ke rumah Akuntan sambil membawa kantong uang yang pernah di berikan kepadanya.
251 Warna sinar yang memiliki gelombang sinar lebih panjang seperti merah dan kuning, dapat melewati dan menembus molekul gas dan debu tadi. Tetapi warna biru yang memiliki gelombang sinar lebih pendek dipantulkan kembali ke atas atmosfir. Itulah mengapa langit terlihat berwarna biru.
252 Bagaimana pelangi terbentuk? Pelangi terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfir. Ketika sinar matahari melalui tetesan air, cahaya tersebut dibengkokkan sedemikian rupa sehingga membuat warna-warna yang ada pada cahaya tersebut terpisah.
253 Gelas termasuk benda padat, tetapi mengapa gelas terlihat bening? Molekul dari benda padat biasanya saling mengikat dengan rapat, karena itu umumnya sinar tidak dapat menembus benda padat. Pada cairan dan gas, molekul-molekul bergerak bebas dan memiliki banyak ruang kosong diantara molekulnya.
254 Panas dari matahari akan menyebabkan air dilaut, sungai dan danau menguap. Uap air yang hangat tersebut akan bergerak naik keatas, dan saat uap tersebut naik, uap air mulai menjadi dingin. Hasilnya, uap air tersebut mulai berkondensasi membentuk kembali butiran-butiran air.
255 Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua.
256 Struktur matanya menjadi inspirasi para ilmuwan untuk mengembangkan kamera video pendeteksi gerakan, sistem detektor target untuk peralatan militer, maupun radar. Sebab, mata seekor lalat diketahui mampu melihat gerakan objek dengan jelas di antara benda-benda lain yang berada di sekitarnya.
257 Hal tersebut dapat dilakukan karena serangga tersebut dapat menyatukan gambaran suatu objek yang mendapatkan tingkat pencahayaan berbeda-beda. Kamera konvensional umumnya hanya bersandar pada satu tingkat pencahayaan. Misalnya, melihat gerakan seseorang di antara rerimbunan pohon.
258 Mengapa Bisa Terjadi Petir? Petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif menuju ke muatan positif. Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi.
259 Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian.
260 Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar. Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan.
261 Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku." Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah.
262 Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?" gumam petani. "Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu.
263 Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat. Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut.
264 Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus!" kata seseorang kepada temannya.
265 Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja. Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri.
266 Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri. Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak.
267 Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar.
268 Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.
269 Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya. Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan. Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya.
270 Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara. Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah.
271 Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi. Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi.
272 Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan. Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat.
273 Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing. Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu.
274 Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota. Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi.
275 Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi. Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya.
276 Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah. Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar.
277 Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib... setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas berlian dan uang.
278 Tetapi ia telah mencuri hartaku! Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa hari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya.
279 Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain mereka, Mah Bongsu juga membantu para anak yatim piatu, orang yang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan.
280 Bahkan ia menjadi bingung. Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itu pun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah yang terletak di halaman depan pondok Mah bongsu.
281 Selanjutnya tempat itu diberi nam desa "Tiban" asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan. Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan pernikahan dengan pemuda tampan tersbut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan.
282 Dibalik kebahagian Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatok ular berbisa. Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh.
283 Siapa saja boleh ikut, tetapi biasanya peserta permainan antara lima sampai sepuluh orang, karena bersifat mencari kawan yang bersembunyi, maka tidak terlalu banyak yang menjadi bagian dari permainan ini. Dari seluruh pemain akan bermain hompipa sampai habis dan tinggal dua orang saja.
284 Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.
285 Indonesia memang Negara tropis dan buah pisang adalah salah satu komoditas tanaman yang tumbuh subur di daerah tropis. Karena melimpah, buah pisang dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Khasiat pisang tak hanya sebagai sumber karbohidrat tetapi juga sumber vitamin, serat dan juga beta karoten.
286 Buah pisang memang istimewa! Tak hanya dagingnya saja, ternyata kulit buah pisang pun tak kalah menakjubkan. Jika selama ini Anda hanya menganggapnya sampah, mulai saat ini Anda harus berpikir ulang. Sebab manfaat kulit pisang cukup beragam dan telah teruji secara klinis.
287 Sedangkan kulitnya dibuang begitu saja atau di jadikan makanan untuk hewan ternak. Kulit singkong selama ini memang sering disepelekan dan dianggap sebagai limbah dari tanaman singkong. Padahal, kulit singkong ini memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia.
288 Limbah singkong tersebut yang pasti dapat dengan mudah Anda peroleh dari industri rumahan yang memiliki bisnis singkong goreng ataupun keripik singkong misalnya. Biasanya mereka mempunyai sampah kulit singkong yang banyak, dan mereka sendiripun tidak sempat untuk mengolahnya kembali.
289 Bahkan sejak zaman Sansekerta, tanaman ini sudah dipakai sebagai obat penyakit kulit, gangguan system saraf, maupun peredaran darah. Di India ia dipakai sebagai obat antidisentri. Di Malaysia, selain dijual sebagai tonik dan minuma segar, ia juga jadi bahan infuse untuk penyembuhan gangguan liver.
290 Mereka hidup dihutan dan bersahabat sangat akrab. Suatu ketika burung penyanyi bernyanyi dihadapan buaya dengan bertengger di hidungnya. Karena sangat asiknya mereka bernyanyi dan mendengarkan suara merdu. Tak lama kemudian buaya menguap dan membuka mulutnya lebar lebar.
291 Burung penyanyi yang sedang bertengger di hidung buaya terpleset masuk ke dalam mulut buaya. Lalu buaya heran "kemana burung penyanyi?". Buaya mencari burung penyanyi di semak semak tetapi tetap tidak ada. Lalu saat buaya sedang mencari burung penyanyi, senandung merdu keluar dari mulut buaya.
292 Kata buaya "aku sama sekali tidak tahu kalau kau masuk ke mulutku, jadi suara yang indah itu bukan suaraku?" Burung penyanyi berkata "iya, itu suaraku bukan suaramu, kau kan tidak bisa bernyanyi sepertiku suaramu itu tidak enak didengar". Buaya menangis setelah mendengar ucapan burung penyanyi.
293 Kata buaya "bagaimana caranya aku kan tidak bisa bernyanyi sepertimu?" Kata burung penyanyi "mudah saja buatlah gelembung gelembung air lalu aku bernyanyi". Setelah itu buaya memasukkan mulutnya ke dalam air dan membuat gelembung gelembung air sedangkan burung penyanyi bertugas untuk bernyanyi.
294 Pada suatu ketika, seekor Domba jantan sedang berjalan-jalan di padang rumput. Dia mencari rumput yang enak untuk dimakan. Tidak lama kemudian, dia melihat ada hutan di dekat padang rumput itu. Karena ingin mencari tumbuh-tumbuhan selain rumput yang enak untuk dimakan, dia pun masuk ke hutan itu.
295 Dia lalu berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Si Rubah berteriak-teriak meminta Harimau untuk berhenti berlari, karena dia ikut terseret. Tapi Harimau tidak mendengarnya, dan terus berlari, sampai akhirnya si Rubah mati karena terseret-seret sangat jauh melintasi hutan itu.
296 Si Singa menunduk, dan menggoyangkan ekornya perlahan, sambil menunjukkan kakinya yang tertancap duri itu, seakan-akan ingin berkata "Aku mohon, tolonglah aku." Gembala yang pemberani itu lalu mendekat dan memeriksa kakinya. Dia menemukan duri yang menancap itu, lalu mencabutnya dengan hati-hati.
297 Singa itu bahkan mendekati si Gembala, dan menaruh kakinya di pangkuannya. Ternyata singa itu adalah si Singa yang pernah ditolongnya dengan mencabut duri dari kakinya. Kejadian yang aneh itu beritanya menyebar ke seluruh kerajaan. Bahkan, sang Raja juga mendengar tentang kejadian itu.
298 Dia juga tidak pernah disuruh untuk bekerja. Sedangkan si keledai, dia harus bekerja keras setiap hari, mengangkut barang dan menarik gerobak yang berat. Dia tinggal di sebuah kandang yang jarang dibersihkan, dan hampir tidak pernah dimandikan. Selain itu, dia selalu diberi makan seadanya.
299 Si keledai, melihat semua itu, lalu menyadari bahwa selama ini dia salah. Ternyata nasibnya jauh lebih baik dibandingkan kuda itu. Pelajaran yang bisa diambil dari dongeng ini: Terkadang kita melihat orang lain, dan merasa bahwa dia lebih bahagia dan bernasib lebih baik dari kita.
300 Seorang nenek yang miskin yang hanya hidup berdua dengan cucunya sedang mencari kayu bakar di hutan. Dia menemukan sebatang tebu yang hijau, lalu mengambilnya dan menaruhnya di antara kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Tiba-tiba muncul seekor babi hutan yang merupakan jelmaan dari peri jahat.
301 Babi hutan itu lalu marah, dan berkata bahwa nanti malam cucunya lah yang akan dimakannya. Si nenek pulang ke rumah, lalu duduk di dekat pintu dan mulai menangis tersedu-sedu. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa melawan seekor babi hutan yang merupakan jelmaan peri jahat itu.
302 Ketika si nenek sedang menangis, seorang penjual jarum lewat di depan rumahnya. Penjual jarum itu merasa kasihan kepada si nenek. Dia lalu memberi si nenek satu kotak jarum. Si nenek lalu menancapkan jarum-jarum itu di bagian luar pintu rumahnya. Setelah itu, dia kembali duduk dan menangis.
303 Seperti orang-orang yang sebelumnya, dia juga merasa kasihan kepada si nenek, tapi dia tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadanya. Tapi, dia bersedia meminjamkan sapi jantannya kepada si nenek. Entah apa gunanya, tapi setidaknya sapi jantan itu bisa menemani si nenek di rumah.
304 Dulu, ada seorang nenek yang mempunyai dua buah pot besar, yang digantungkan pada sebatang kayu, dan dia bawa di bahunya untuk mengambil air di mata air setiap hari. Salah satu pot itu sudah retak, sedangkan yang satunya masih utuh, dan selalu dapat dia gunakan untuk membawa air dengan baik.
305 Sedangkan pot yang sudah retak, selalu menyisakan separuhnya saja saat dia tiba di rumah. Setiap hari selama bertahun-tahun nenek itu mengambil air dengan menggunakan kedua potnya, dan sampai di rumah dengan air sebanyak satu setengah pot. Pot yang utuh sangat bangga dengan dirinya.
306 Dia berniat memberikan buah persik itu kepada suaminya. Ketika si nenek memotong buah persik itu menjadi dua bagian, keluarlah seorang anak. Kakek dan nenek itu sangat bahagia, dan memberi nama anak itu Momotaro, yang artinya Anak Persik, karena dia memang keluar dari buah persik.
307 Anak itu pun tumbuh besar dan menjadi kuat. Kakek nenek itu senang sekali. Momotaro menyadari bahwa ternyata dirinya jauh lebih kuat dibandingkan orang lain. Dia lalu memutuskan untuk menyeberang ke sebuah pulau yang dihuni para iblis, mengambil kekayaan mereka, lalu kembali.
308 Momotaro lalu mengambil satu kue kibidango dan memberikannya kepada si anjing, dan mereka melanjutkan perjalanan. Di perjalanan, ada seekor monyet, dan seekor burung, yang juga meminta sebuah kue kibidango, lalu ikut dengannya. Jadi mereka lalu melanjutkan perjalanan berempat.
309 Momotaro lalu bertarung melawan raja iblis itu. Momotaro memenangkan pertarungan, dan mengikat raja iblis itu dengan sangat kuat sehingga dia tidak bisa bergerak. Raja iblis berkata kepada Momotaro bahwa dia bersedia menyerahkan semua kekayaannya. "Baiklah," kata Momotaro sambil tertawa.
310 Kakek dan nenek sangat senang ketika Momotaro kembali dengan selamat, dan membawa harta yang banyak. Dia lalu mengadakan pesta perayaan yang sangat meriah, dan semua orang diundang, dan dijamu dengan sangat baik. Di perayaan itu, dia juga menceritakan tentang petualangannya kepada semua yang hadir.
311 Pada suatu hari, si Kancil yang cerdik sedang berjalan-jalan di hutan. Karena merasa haus, Kancil pun mencari sungai agar ia bisa minum. Ketika sedang minum, Kancil melihat kalau di seberang sungai ada banyak pohon ketimun, buah yang sangat digemarinya. Tapi sayangnya, arus sungai terlalu deras.
312 Kancil tahu bahwa ia tidak mungkin berjalan atau berenang menyeberangi sungai itu. Kancil pun berpikir keras. Ia mencari cara untuk menyeberangi sungai yang arusnya deras itu. Tiba-tiba ada sekelompok buaya yang berenang melewatinya. Kancil pun mendapatkan ide yang cemerlang.
313 Buaya tadi lalu memanggil teman-temannya yang lain, dan semuanya berkumpul di sungai itu. Karena banyaknya jumlah buaya yang berkumpul, sungai yang lebar dan airnya deras itu sampai hampir penuh. "Oke, sekarang aku harus menghitung jumlah kalian dulu supaya semuanya kebagian!" kata Kancil.
314 Mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Di rumah monyet, ia menanam biji pisang itu di halaman rumahnya. Tapi, monyet tidak rajin merawatnya. Terkadang seminggu sekali. Bahkan pernah dalam seminggu tidak dirawat sedikitpun. Maka, pohon pisang monyet masih kecil sekali.
315 Monyet dan kura-kura Suatu hari, monyet pergi ke rumah kura-kura. Dilihatnya pisang yang sudah besar dan matang. Kebetulan juga kura-kura meminta tolong pada monyet. "Sahabat baikku, maukah kau petikkan untukku pisang itu? Tenang saja, kau juga akan kubagi," kata kura-kura.
316 Dalam hati monyet, monyet senang. Tapi, ada suatu niat jahat. Dia akan memanjat pohon lalu memakan semua pisang kura-kura tanpa memberinya. "Baiklah, aku akan mengambilnya," kata monyet. Monyet lalu memanjat pohon itu. Begitu sampai di atas, monyet langsung memakan pisang yang ada di pohon itu.
317 Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana. Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon. Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal.
318 Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan. Karena lelah dan kedinginan, siput masuk ke dalam cangkang itu. Siput merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.
319 Ketika pagi datang, siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku. Aku akan membawa rumah ini bersamaku kemanapun aku pergi.
320 Di suatu desa, hiduplah seorang petani yang sudah tua. Petani ini hidup seorang diri dan sangat miskin, pakaiannya penuh dengan tambalan dan rumahnya terbuat dari gubuk kayu. Musim dingin sudah tiba, pak petani tidak punya makanan, juga tidak mempunyai kayu bakar untuk menghangatkan diri.
321 Pak petani menyelimuti telur itu dengan kain lusuh dan meletakkannya di dalam kardus agar tetap hangat. Setelah itu dia pergi ke pasar untuk bekerja. Pak petani membuat telur itu menjadi hangat setiap hari sampai telur itu menetas. Ternyata telur itu adalah telur burung camar.
322 Pak petani merawat burung camar kecil itu dengan penuh kasih sayang. Dia selalu membagi setiap makanan yang diperolehnya dari bekerja di pasar. Ketika harus meninggalkan burung camar itu sendirian, pak petani akan meletakkannya di dalam kardus dan menyalakan perapian agar burung camar tetap hangat.
323 Pak petani heran burung camar itu masih mengingatnya. Dibiarkannya burung camar itu masuk dan diberinya minum. Sambil memandang benih yang dibawa oleh burung camar, pak petani bertanya-tanya. Benih apakah ini? Dapatkah aku menanamnya di tengah musim dingin ini? Tanyanya dalam hati.
324 Ketika hari menjelang senja burung camar itu pergi meninggalkan pak petani. Esok harinya, keajaiban terjadi. Benih yang ditanam burung camar tumbuh menjadi pohon lengkap dengan buahnya hanya dalam sehari. Pak petani sangat terkejut melihatnya. Karena lapar, pak petani memakan buah pohon itu.
325 Ajaib, tubuhnya menjadi kuat dan dia tidak merasa sakit. Karena keajaibannya, pak petani menamakan pohon itu Pohon Dewa, karena buahnya dapat membuat pak petani menjadi sehat kembali. Pak petani merawat pohon itu dengan baik. Meskipun musim dingin, pohon itu terus berbuah dan tidak menjadi kering.
326 Di suatu lembah yang subur, sekelompok binatang hidup dengan aman dan nyaman. Mereka tidak pernah berkekurangan. Lembah itu menyediakan semua yang dibutuhkan para hewan. Sumber mata air yang segar, dan pohon-pohon yang selalu berbuah tanpa mengenal musim. Semua hewan hidup dengan bahagia.
327 Suatu hari bertemu lah seekor monyet dengan burung gereja yang sedang mematuk-matuk di tanah. "Apa yang sedang kau lakukan burung gereja?" tanya monyet. Burung gereja memandang monyet dan berkata, "aku sedang mengumpulkan biji-bijian." Mendengar jawaban burung gereja, monyet tertawa terbahak-bahak.
328 Kali ini monyet membawa buah apel di tangannya. "Hai burung gereja, kau sedang mencari biji-bijian lagi ya? Pantas saja kau tidak bertambah besar, yang kau makan bijinya, bukan buahnya, ha ha ha" ejek Monyet. Burung gereja hanya diam dan terus mengumpulkan biji-biji apel yang dibuang oleh monyet.
329 Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.
330 Keduanya sampai di sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu. "Silakan masuk, Anak Muda," sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka adalah cucu-cucu bekas muridnya.
331 Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu. Suatu malam Panembahan memanggil mereka berdua.
332 Sungai amat jauh dan sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk minum. Ia tidak melihat kolam air di mana pun. Ia terbang berputar-putar. Akhirnya ia melihat sebuah buyung (tempat untuk membawa air yang besar perutnya yang terbuat dari tanah) di luar rumah. Rajawali terbang turun ke buyung itu.
333 Ia memanjat ke atas buyung. Ia memasukkan lagi kepalanya ke dalam buyung tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air itu. Kemudian ia mencari akal. Rajawali itu terbang tinggi dan kemudian turun menuju ke buyung untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi buyung itu amat kuat.
334 Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar terbang kearah buyung kemudian ia menabrakkan sayapnya. Ia mencoba memecahkannya, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi buyung itu amat kuat. Rajawali itu amat letih bila harus terbang lebih jauh lagi. Ia berpikir ia akan mati kehausan.
335 Ia berpikir terus menerus Ia tidak mau mati karena kehausan. Ia melihat banyak batu-batu kecil di tanah. Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam buyung. Ia memasukkan dan memasukkan terus. Air itu naik lebih tinggi setiap kali batu jatuh ke dalam buyung.
336 Ia berlari kencang sekali sehingga tidak terkejar si tukang daging. Ia berlari ke ladang sambil membawa tulang di moncongnya. Ia ingin makan semuanya sendirian. Anjing itu melewati sebuah sungai kecil. Ada sebuah jembatan sempit di atasnya. Ia berjalan di jembatan itu sambil melihat ke air.
337 Ia melihat bayangannya sendiri di dalam air. Ia berpikir ada anjing lain dengan tulang di mulutnya. Anjing yang rakus itu berpikir tulang yang di mulut anjing itu lebih besar dari pada yang ia bawa. Ia meloncat ke air untuk merebut tulang yang lebih besar dari anjing yang ia lihat tadi.
338 Di tengah jalan ia menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting. "Wah menarik ya," ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal.
339 Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi.
340 Menurut Mina dan Lina, perkawinan membuat orang kehilangan segala sesuatu yang mereka cintai: orang tua, teman, sanak-saudara, bahkan kampung halaman. Demikianlah, karena tak ada laki-laki kakak-beradik yang menyunting Mina dan Lina, mereka tak kunjung menikah. Waktu pun terus berlalu.
341 Ibu Mina dan Lina meninggal karena usia yang semakin tua. Sepeninggal ibunya, gadis kakak-beradik itu tinggal bersama dengan paman mereka. Pada suatu hari, sekelompok bajak laut menculik Lina. Pemimpin bajak laut itu ingin memperistri Lina. Lina menolak dan meronta sekuat tenaga.
342 Penculikan itu diketahui oleh Mina. Karena tak ingin terpisah dari adiknya, Mina bertekad menyusul Lina. Dengan perahu yang lebih kecil, Mina mengejar perahu penculik Lina. Teriakan orang sekampung tak dihiraukannya. Mina terus mengejar sampai tubuhnya tak kelihatan lagi.
343 Halilintar menggelegar, petir menyambar-nyambar. Orang-orang berlarian ke rumah masing-masing. Ombak bergulung-gulung. Menelan perahu penculik Lina, menelan Lina, menelan Mina, menelan semuanya. Ketika keadaan kembali normal, orang-orang dikejutkan oleh dua pulau yang tiba-tiba muncul di kejauhan.
344 Dulu, Singapura pernah direpotkan oleh ikan todak. Ikan bermoncong panjang dan tajam itu suka menyerang penduduk. Tak terhitung berapa banyak penduduk yang luka-luka dan mati akibat serangan ikan ganas itu. Raja kemudian memerintahkan penglima perangnya untuk menaklukkan ikan-ikan jahat itu.
345 Pagar itu kemudian ditaruh di pinggir pantai, tempat ikan-ikan itu biasa menyerang penduduk. Raja kemudian memerintahkan Panglima untuk membuat apa yang dilkatakan anak kecil itu. Diam-diam Panglima mengakui kepintaran si anak. Diam-diam pula dia membenci anak kecil itu.
346 Keesokan harinya, selesailah pagar pohon pisang itu. Pagar itu lalu ditaruh di tepi pantai sebagaimana yang dikatakana si anak kecil. Ternyata benar. Ikan-ikan yang menyerang pagar pohon pisang itu tak bisa menarik kembali moncongnya. Mereka mengelepar-gelepar sekuat tenaga, tetapi sia-sia.
347 Moncong mereka yang panjang dan tajam itu menancap kuat dan dalam pada batang pohon pisang yang lunak itu. Akhirnya, dengan mudah penduduk dapat membunuh ikan-ikan jahat itu. Si anak pun diberi hadiah oleh Raja. "Terima kasih. Kau sungguh-sungguh anak yang pintar," puji Raja.
348 Raja terhasut. Ia lalu memerintahkan Sang Panglima untuk menyingkirkan anak itu. Sang Panglima mendatangi rumah anak kecil itu dan dengan licik membunuh anak tak berdosa itu. Anehnya, darah si anak mengalir deras dan membasahi seluruh tanah bukit tempat anak itu tinggal.
349 Perahu mereka pun merapat ke Pulau Tumasik. Setelah mendarat, Raja meninggalkan kapal dan berkeliling melihat-lihat pulau itu. Ketika berkeliling itulah tiba-tiba seekor binatang berkelebat tak jauh darinya. Raja terkejut dan terpukau. Binatang itu begitu besar, berwarna keemasan, dan tampak gagah.
350 Tersebutlah dua orang jagoan yang selalu ingin menunjukkan dirinya lebih jago dari yang lain. Pada suatu hari, mereka bertemu di perairan sebelah selatan Singapura. Tanpa basa basi, mereka langsung saling menyerang. Mereka bertarung lama sekali hingga tubuh mereka bersimbah darah.
351 Jin Laut marah. Dia menyemburkan air ke wajah kedua jagoan itu sehingga pandangan mereka terhalang. Karena tak dapat melihat dengan jelas, kedua jagoan itu bertempur secara membabi-buta. Mereka mengayunkan pedang ke sana-kemari sekehendak hati sampai akhirnya bersarang di tubuh lawan masing-masing.
352 Para dewa di kayangan murka karena Jin Laut turut campur urusan manusia. Mereka memperingatkan Jin Laut untuk tidak lagi ikut campur urusan manusia. Jin Laut mengaku salah dan mencoba menebus dosa dengan membuatkan tempat khusus agar roh kedua jagoan itu dapat bersemayam dengan tenang.
353 Karena tak ingin tetangganya tahu mengenai kekayaannya, seluruh tabungannya dibelikan emas dan dikuburnya emas itu di sebuah lubang di belakang rumahnya. Seminggu sekali digalinya lubang itu, dikeluarkan emasnya, dan diciuminya dengan penuh kebanggaan. Setelah puas, ia kembali mengubur emasnya.
354 Pada suatu hari, seorang penjahat melihat perbuatan petani itu. Malam harinya, penjahat itu mencuri seluruh emas si petani. Esok harinya petani itu menangis meraung-raung sehingga seluruh tetangga mengetahui apa yang terjadi. Tak seorang tetangga pun tahu siapa yang mencuri emasnya.
355 Hanya seorang lelaki tua miskin yang berani bersikap jujur kepada petani itu. Lelaki tua itu tinggal tak jauh dari rumah si petani. "Sudahlah, begini saja. Di lubang bekas emas itu kuburkanlah sebongkah batu atau apa saja dan berlakulah seperti sebelum kau kecurian." Mendengar itu, si petani marah.
356 Pada zaman dahulu hiduplah seorang petani sederhana bersama istrinya yang cantik. Petani itu selalu bekerja keras, tetapi istrinya hanya bersolek dan tidak mempedulikan rumah tangganya. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana dan hidup dari hasil pertanian sebagaimana layaknya keluarga petani.
357 Sakitnya makin parah hingga akhirnya meninggal dunia. Suaminya begitu sedih. Sepanjang hari dia menangisi istrinya yang kini terbujur tanpa daya. Karena tak ingin kehilangan, petani itu tak mau mengubur tubuh istrinya yang amat dicintainya itu. Dia ingin menghidupkan kembali istrinya.
358 Dengan sampan itu dia membawa jasad istrinya menyusuri sungai menuju tempat yang diyakini sebagai persemayaman para dewa. Dewa tentu mau menghidupkan kembali istriku, begitu pikirnya. Meskipun tak tahu persis tempat persemayaman para dewa, petani itu terus mengayuh sampannya.
359 Dia mengayuh dan mengayuh tak kenal lelah. Suatu hari, kabut tebal menghalangi pandangannya sehingga sampannya tersangkut. Ketika kabut menguap, di hadapannya berdiri sebuah gunung yang amat tinggi, yang puncaknya menembus awan. Di sinilah tempat tinggal para dewa, pikir Petani.
360 Di tengah padang rumput yang sangat luas, terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. Di antara katak-katak tersebut ada satu anak katak yang bernama Kenthus, dia adalah anak katak yang paling besar dan kuat. Karena kelebihannya itu, Kenthus menjadi sangat sombong.
361 Sebenarnya kakak Kenthus sudah sering menasehati agar Kentus tidak bersikap sombong pada teman-temannya yang lain. Tetapi nasehat kakaknya tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya, hingga Kenthus tidak mempunyai teman bermain lagi.
362 Pada suatu pagi, Kenthus berlatih melompat di padang rumput. Ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain di situ. Sesekali, anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali menyenggok rumput yang segar.
363 Kebetulan pergerakannya sama dengan Kenthus sehingga menyebabkan Khentus menjadi cemas dan melompat dengan segera untuk menyelamatkan diri. Sambil terengah-engah, Kenthus sampai di tepi kolam. Melihat Kenthus yang kelihatan sangat capek, kawan-kawannya nampak sangat heran.
364 Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah padang rumput itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. Makhluk itu hendak menelan aku." Kata Kenthus. Kakaknya yang baru tiba di situ menjelaskan. "Makhluk itu anak lembu. sepengetahuan kakak, anak lembu tidak jahat.
365 Perutnya sangat sakit dan perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak Kenthus lalu membantu. Mujurlah Kenthus tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala tetapi sikapnya telah banyak berubah. Dia malu dan kesal dengan sikapnya yang sombong.
366 Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali.
367 Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat. Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah.
368 Namun ia takut. Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa.
369 Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama.
370 Kegemarannya menumpuk harta sebanyak mungkin yang diperolehnya dari pajak rakyatnya. Raja Zanas selain tamak juga seorang raja yang sangat kikir. Rakyat yang hidup sengsara tidak sekalipun pernah dipikirkannya. Anehnya raja yang zalim itu mempunyai kegemaran mendengarkan musik.
371 Salah satu kegemaran Raja Zanas adalah mendengarkan tiupan suling. Kebetulan di negerinya ada seorang peniup seruling yang sangat pandai bernama Tarajan. Raja Zanas sangat memanjakan Tarajan dan kerap mengirim peniup seruling itu ke seluruh penjuru negeri bahkan ke luar kerajaannya untuk berlomba.
372 Usul itu diterima dengan baik bahkan raja merasa bangga jika Tarajan dapat mengalahkan pemain musik dari kerajaan langit itu. Dewa Apolo yang mendengar tantangan itu menyanggupi. Justru Dewa itu ingin memberi pelajaran pada Tarajan dan Raja Zanas yang berkelakuan tidak lazim.
373 Mereka begitu yakin dapat mengalahkan Apolo yang tampak masih sangat muda itu. Pada hari yang telah ditentukan pertandingan dimulai. Seluruh rakyat tumpah ruah ke halaman Istana. Sedangkan Dewa Zeus sebagai penguasa seluruh khayangan ikut menyaksikan tanpa seorang pun yang tahu.
374 Sebagai penantang Tarajan dipersilakan meniup seruling terlebih dahulu. Dengan pongah Tarajan naik ke atas podium lalu segera meniup serulingnya. Seruling emas berbalut intan permata milik Tarajan segera mengumandangkan lagu-lagi yang sangat merdu. Naik turun seperti ombak.
375 Keesokannya, setelah timbangan dikembalikan, ternyata di dasar timangan ada sesuatu yang berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di dasar timbangan ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk menanyakan hal tersebut.
376 Uang hasil penjualan sapi tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli biji gandum dan kemudian akan menanamnya di ladang belakang rumah mereka. Keesokan harinya, Jack pergi ke pasar untuk menjual sapinya. Di tengah perjalanan menuju ke pasar, Jack bertemu dengan seorang kakek.
377 Jika kau menanamnya dan membiarkannya semalam, maka pagi harinya kacang ini akan tumbuh sampai ke langit, kata kakek itu menjelaskan. "Jika begitu baiklah," jawab Jack. Sesampainya di rumah, Jack menceritakan semuanya kepada ibunya. Setelah mendengar cerita Jack, ibu sangat terkejut dan marah.
378 Ia melihat rumah-rumah menjadi sangat kecil. Akhirnya Jack sampai ke awan. Di sana ia bisa melihat sebuah istana yang sangat besar sekali. "Aku haus dan lapar, mungkin di istana itu aku menemukan makanan," gumam Jack. Sesampainya di depan pintu istana, ia mengetuknya dengan keras.
379 Hingga pada suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kerumah Aladin. Laki-laki itu berkata kalau dia adalah saudara laki-laki almarhum bapaknya yang sudah lama merantau ke Negara tetangga. Aladin dan ibunya sangat senang sekali, karena ternyata mereka masih memiliki saudara.
380 Pamannya sangat marah setelah mendengar jawaban Aladin tersebut. "Berangkatlah sekarang, atau kusihir engkau menjadi katak," teriak pamannya. Melihat pamannya sangat marah, lalu Aladin bergegas berangkat mencari kayu. Setelah mendapatkan kayu, pamannya lalu membuat api dan mengucapkan mantera.
381 Setelah sampai di bawah, Aladin sangat takjub dengan apa yang dia lihat. Di dasar gua tersebut Aladin menemukan pohon yang berbuahkan permata dan banyak sekali perhiasan. "Cepat kau bawa lampu antiknya padaku, Aladin. Jangan perdulikan yang lain," teriak pamannya dari atas.
382 Di sebuah rumah, hiduplah seorang anak yang sangat cantik dan baik hati. Dia diberi nama Cinderela oleh kedua kakak tirinya. Kakak tiri Cindera itu sangat tidak suka dengan Cinderela. Tiap hari Cinderela selalu mendapatkan perlakuan yang kasar dari kedua kakak dan ibu tirinya.
383 Dia selalu disuruh mengerjakan semua pekerjaan rumah dan selalu dibentak-bentak. Hingga pada suatu hari, datanglah pegawai kerajaan ke rumah mereka. Pegawai kerajaan teresebut ternyata membawa undangan pesta dari sang raja. Kedua kakak dan ibu tiri Cinderala bersorak kegirangan.
384 Cinderela hanya bisa memandangi kakak dan ibu tirinya. Dia sangat sedih sekali, karena tidak dapat ikut dalam pesta itu. Dia hanya bisa menangis di dalam kamar dan membayangkan meriahnya pesta tersebut. "Andaikan aku bisa ikut dalam pesta itu, pasti aku akan senang sekali," gumam Cindera.
385 Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais.
386 Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putri yang cantik itu adalah Cinderela. Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini," kata sang Pangeran.
387 Molly selalu memburu dan memakan tikus-tikus yang suka mencuri makanan di dapur keluarga Jones. Molly memang seekor kucing yang lucu dan menggemaskan. Matanya berwarna hijau dan kumisnya panjang berwarna putih. Ia suka mendengkur dan sangat senang bila tubuhnya dibelai.
388 Kedua anak di keluarga Jones kurang menyukai binatang, sedang nyonya Jones sering membentak Molly jika ia mengeong waktu nyonya Jones sedang memasak ikan. Di samping rumah keluarga Jones, hiduplah seorang anak bernama Billy. Billy adalah anak yang baik dan sangat menyayangi binatang.
389 Ia sangat terkejut saat melihat Molly masih ada di halaman rumah keluarga Jones. Billy lalu menceritakan hal itu kepada ibunya. "Pasti ada orang yang diberi tugas untuk merawat dan memberi makan Molly setiap hari," kata ibu Billy. Molly bertanya-tanya ke mana tuannya pergi.
390 Setelah lama menunggu ia menggaruk-garuk pintu dapur dengan cakarnya berharap dibukakan pintu. Tetapi tampaknya tidak ada orang di dalam rumah. Molly lalu memeriksa kalau-kalau ada jendela yang terbuka sehingga ia bisa masuk, tapi ternyata semua jendela terkunci rapat. Molly merasa kesepian.
391 Tetapi ia berharap tuannya akan pulang nanti sore. Tetapi setelah lama menunggu tuannya tidak juga pulang. Molly mulai merasa kelaparan. Ia juga kedinginan karena harus tidur di luar. Walaupun bersembunyi di dalam semak-semak, ia tetap basah karena kehujanan. Molly mulai sakit.
392 Karena kelaparan Molly memakan tulang kering yang ditemukannya dan juga daun-daun kering yang ada disekitar rumah. Penyakitnya juga semakin parah. Ia bersin-bersin dan lemas. Pada hari keempat Molly sudah menjadi sangat kurus. Ia bahkan hampir tidak bisa berjalan karena sangat lemah.
393 Dahulu, ada seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Anak yang sulung angkuh dan pemarah seperti ibunya, sedangkan yang bungsu manis dan lemah lembut. Sang ibu sangat memanjakan anaksulung nya yang memiliki sifat yang mirip dengannya, dan memperlakukan si bungsu dengan sangat buruk.
394 Wanita tua yang sebenarnya adalah seorang peri itu berkata, "Kamu sangat sopan dan suka menolong, jadi akan kuberikan keajaiban untukmu. Setiap kata yang kamu ucapkan akan mengeluarkan sekuntum bunga, batu permata, dan mutiara dari mulutmu." Si bungsu tidak mengerti maksud wanita tua itu.
395 Ia hanya tersenyum lalu berpamitan dan berjalan pulang. Sesampainya di rumah, ibunya memarahinya karena terlalu lama membawakan air. Si bungsu meminta maaf kepada ibunya dan menceritakan kejadian yang dia alami, bahwa ia menolong seorang wanita tua yang kemudian memberinya keajaiban.
396 Semua orang memang sudah lama tidak pernah melihat peri tua itu, dan mengira bahwa ia sudah meninggal atau pergi dari kerajaan itu. Peri tua yang marah itu mendekati sang Puteri dan mengutuknya "Jarimu akan tertusuk jarum pintal dan kamu akan mati!" dan kemudian peri tua itu pun menghilang.
397 Karena kesepian, sang Puteri berjalan-jalan menjelajahi istana dan sampai di sebuah loteng. Disana ia menjumpai seorang wanita tua yang sedang memintal benang menggunakan alat pintal. Karena belum pernah melihat alat pintal, sang Puteri sangat tertarik dan ingin mencoba.
398 Bunga-bunga di taman itu tidak lagi bermekaran. Burung-burung tidak lagi berkicau dan pohon-pohon berhenti berbuah. Rumput dan daun-daun yang dulunya subur dan hijau kini menjadi kering dan berwarna coklat. Raksasa tidak mengerti mengapa taman miliknya menjadi tidak indah lagi.
399 Pada suatu pagi, raksasa mendengar suara musik yang mengalun. Ternyata itu adalah suara kicauan burung di luar jendelanya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar kicauan burung yang indah seperti itu. Raksasa mendekat ke jendela dan mendengarkan kicauan burung itu dengan sedih.
400 Selama ini ia terlalu egois, dan akibatnya ia hidup sendirian dan merasa kesepian. Raksasa pun mengambil palu besar dan menghancurkan tembok yang mengelilingi tamannya. Dibuangnya tulisan peringatan yang dipasangnya dulu, dan dipanggilnya anak-anak untuk bermain di taman.
401 Awalnya anak-anak merasa takut. Akan tetapi ketika mereka melihat wajah raksasa yang sekarang menjadi ramah, mereka mengikutinya ke taman untuk bermain disana. Lagipula, anak-anak itu juga rindu bermain di taman itu. Taman milik raksasa itu pun kembali penuh dengan anak-anak yang bermain gembira.
402 Pada suatu hari, datanglah dua orang penipu yang menyamar sebagai pembuat baju yang hebat. Mereka mengaku bahwa mereka pandai menenun dan membuat baju dengan kualitas yang sangat bagus, sampai-sampai kain yang mereka pakai untuk membuat baju tidak akan terlihat, kecuali oleh orang-orang pintar.
403 Ketika raja mendengar hal itu, dia sangat tertarik. "Itu bagus, aku bisa tahu siapa saja yang bodoh dan siapa saja yang pintar di kerajaan ini." Pikirnya. Raja segera memerintah kedua orang itu untuk membuatkan baju baru untuk dirinya, menggunakan bahan kain istimewa itu.
404 Ketika menteri mengunjungi para penipu yang menyamar itu, ia pun kebingungan. "Aku tidak melihat apa pun disini" pikirnya. Akan tetapi menteri itu tidak mau mengakuinya karena tidak ingin dianggap bodoh. Maka ia pun memuji kedua penipu itu dan mengatakan bahwa baju yang mereka buat sangat indah.
405 Namun, karena tidak ingin dianggap bodoh, raja pun berpura-pura bisa melihat baju yang istimewa itu dan berkata, "Baju yang sangat indah, aku tidak sabar ingin segera memakainya." Keesokan harinya adalah hari dimana sang raja akan mengenakan baju barunya pada acara pawai keliling kota.
406 Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, "Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku".
407 Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil. Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari.
408 Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama."Aku ada didepanmu!" Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil.
409 Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. "Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik," kata si siput. "Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi," kata si kancil.
410 Pada jaman dahulu di daerah pasundan ada seorang raja yang bernama Prabu Tapak Agung. Beliau memimpin wilayahnya dengan sangat bijaksana, sehingga dicintai oleh rakyatnya. Sang raja mempunyai dua orang putri yang cantik. Yang tertua bernama Purbararang, dan adiknya bernama Purbasari.
411 Dia merasa bahwa karena dia adalah anak tertua, maka dia lah yang seharusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin kerajaan. Purbararang yang sangat geram dan iri tersebut kemudian berencana untuk mencelakakan adiknya. Purbararang pergi menemui seorang nenek sihir.
412 Dia meminta nenek sihir tersebut untuk memanterai adiknya. Akibat dari mantera nenek sihir itu cukup parah. Purbasari tiba-tiba kulitnya menjadi bertotol-totol hitam, dan itu lah yang dijadikan alasan oleh Purbararang untuk mengusirnya dari istana. "Pergi dari sini!" kata Purbararang kepada adiknya.
413 Purbararang lalu menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan adiknya itu ke tengah hutan. Dengan berat hati, Patih tersebut menuruti perintahnya. Namun, di tengah hutan, sang Patih yang sebenarnya baik hati itu tidak langsung meninggalkannya. Dibuatkannya sebuah pondok untuk Purbasari.
414 Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, "hamba naga sahabat ayahmu," terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh. Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan.
415 Pada zaman dahulu, hidup seorang wanita bernama Endang Sawitri yang tinggal di desa Ngasem. Endang Sawitri sedang hamil, dan kemudian dia pun melahirkan. Anehnya, yang dilahirkan bukanlah bayi biasa, melainkan seekor naga. Naga tersebut kemudian diberi nama Baru Klinting.
416 Justru anjinglah yang mempunyai tanduk panjang dan bercabang-cabang. Pada suatu ketika, musim panas yang sangat panjang tiba, sehingga hampir semua sungai menguap airnya hingga kering. Semua hewan merasa kehausan dan juga kelaparan karena rumput dan tumbuh-tumbuhan lainnya tidak dapat tumbuh.
417 Daerah tersebut merupakan sebuah teluk yang kaya akan hasil laut, dan pemandangan disana pun sangat indah. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sepanjang teluk hidup sebagai nelayan dan petani yang sangat makmur. Sultan yang memerintah kerajaan pada waktu itu adalah Sultan Aji Muhammad.
418 Kerajaan Daru dipimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam dipimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju.
419 Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.
420 Berkenaan dengan kebiasaan ini, terdapat sebuah cerita di dalamnya. Pada suatu masa ketika desa Kemingking Dalam masih merupakan desa dengan pemerintahan tersendiri dan raja-rajanya masih berkuasa. Rakyat hidup berdampingan dalam kedamaian dan kesejahteraan berkat pemimpin yang bijaksana.
421 Ia tidak hanya menghabisi ternak warga masyarakat, tetapi lambat laun harimau ini mulai menyerang manusia. Membuat belasan orang meninggal sedangkan puluhan lainnya luka-luka dengan cacat pada tubuhnya. Melihat hal ini, Raja yang berkuasa di saat itu tidak dapat tinggal diam.
422 Ketika berhadapan dengan sang harimau prajurit ini langsung menyerang dengan segala daya upaya yang dimilikinya. Namun sang harimau yang sangat besar dan kuat dapat dengan mudah mematahkan pedang dan tombak senjata sang prajurit serta melukai prajurit hingga terluka parah.
423 Tingkah lakunya tidak layak disebut sebagai putra mahkota karena tidak sekalipun ia peduli terhadap kepentingan dan kesejahteraan rakyat dan kerajaannya. Tidak seperti ayahnya yang arif, bijaksana, dan darmawan Kamanda Sultan Jati tidak lebih dari seorang yang tamak dan semena-mena kepada rakyatnya.
424 Dalam memungut pajak, babah Liem dibantu oleh anak buahnya yang berasal dari kalangan pribumi. Anak buah yang diangkat babah Liem adalah kaum pribumi yang pandai bersilat dan memainkan senjata. Tujuannya adalah supaya para penduduk tidak berani melawan dan membantah pada saat dipungut pajak.
425 Dengan nada geram, si Pitung berbicara dalam hatinya, "Nantikan pembalasanku!" Hingga keesokan harinya saat si Pitung berjalan menyusuri kampung, dia melihat kesewenang-wenangan anak buah babah Liem lagi. Mereka merampas ayam, kambing, kelapa, dan padi dari penduduk, tanpa rasa iba.
426 Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso.
427 Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya. Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah.
428 Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
429 Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja.
430 Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya.
431 Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya.
432 Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
433 Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang.
434 Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya. Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan.
435 Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang.
436 Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi. Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah.
437 Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali.
438 Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya.
439 Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini.
440 Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa, "Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini".
441 Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali. Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut.
442 Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek ingin mengintip apa yang terjadi pada saat dia pergi mencari ikan. Nenek itu lalu berpura-pura pergi ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya, lalu pergi ke belakang rumah untuk mengintipnya.
443 Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut. Karena keong emas yang ada ditempayan berubah wujud menjadi gadis cantik. Gadis tersebut lalu memasak dan menyiapkan masakan tersebut di meja. Karena merasa penasaran, lalu nenek tersebut memberanikan diri untuk menegur putri nan cantik itu.
444 Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
445 Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan. Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut.
446 Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
447 Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur.
448 Mbok Sarni kemudian mengambilnya, dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama Timun Mas. Semakin hari Timun Mas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi.
449 Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni. Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi.

Связаться
Выделить
Выделите фрагменты страницы, относящиеся к вашему сообщению
Скрыть сведения
Скрыть всю личную информацию
Отмена